Sachi keluar dari kamar dengan mata yang memerah dan sedikit bengkak. Tangannya membawa tissue yang telah basah. Ia menangis haru karena ia baru saja selesai menonton film Thailand yang berjudul Sunset At Chaophraya. Ia benar-benar terbawa suasana film itu. Disamping alur cerita film yang mengharukan, Sachi adalah sosok gadis yang sangat perasa, maka tak mengherankan kalau dia cepat mengeluarkan air mata bila menonton film dengan genre yang sama. Ia tertunduk malu ketika ia mendapati Dony, kakak laki-laki yang lebih tua 2 tahun darinya dan mamanya sedang derdua di ruang makan. “Eh, kenapa tuh?” kakaknya mulai menginterogasi, tangannya mengarah pada Sachi “Lho dek, kenapa? Habis nangis?” mamanya ikut-ikutan “habis diputusin pacar tuh Ma” kakaknya mulai ngaco. “Ah abang, emangnya Sachi kayak abang yang gonta ganti pacar?” Sachi manyun. “lha terus?” Tanya mamanya “habis nonton film ma” Sachi tersenyum. Ia tak melanjutkkan kata-katanya, lalu ia duduk disamping mamanya. “alah, dasar cengeng. Nonton film aja pake acara nangis segala. Kek drama queen!” hardik kakaknya. “biarin, dari pada abang ga punya perasaan” kata Sachi mengejek abangnya. Ia berdiri untuk masuk ke kamarnya. Dony adalah kakak semata wayang Sachi yang kini kuliah di Jakarta dan mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sedari kecil ia memang ingin menjadi diplomat. Lain lagi urusannya dengan Sachi, meskipun ia termasuk anak yang cerdas, tapi ia belum mempunyai cita-cita yang tetap. Selalu saja ia bergonta-ganti cita-cita ketika mama atau papanya bertanya. Kadang tingkah laku Sachi ini membuat orag tuanya senewen tak karuan. Sachi benar-benar sedih karena ia mendapat nilai kimia hanya 49. Tak genap 50, padahal ia sangat yakin kalau ia bisa mendapat lebih dari itu. Ternyata ia tak sendirian, teman-temannya juga banyak yang mendapat nilai separah itu. Malah teman sebangkunya, Ririn mendapat lebih parah dari dia, 8 ketawa alias 3. Benar-benar bikin kepala mendadak pusing jika mereka teringat orang tua mereka. sachi menghela napas panjang. Jelas sekali tergambar kekecewaan diwajahnya. Ia hampir saja menangis kalau tidak ditenangkan oleh Ririn. Sesampainya dirumah, Sachi rasanya enggan keluar kamar untuk bertatap muka dengan orang tuanya. Bahkan saat makan malam saja ia terlihat sangat malas, padahal biasanya kalau bertemu dengan makanan keriting berwarna coklat karena dimandikan dengan kecap, ia sangat antusias. Tapi, rasanya semua hambar. Orang tua dan kakaknya heran setengah mati melihat tingkah polah Sachi yang sangat aneh, apalagi tidak biasanya Sachi murung seperti ini. “nah kan ma, Habis diputus tuh sama pacar.” Sahut kakaknya asal “abang! Siapa sih yang punya pacar.” Bibirnya agak maju seperti bebek “kenapa? Kok ga biasanya seperti ini” ucap mamanya halus. “iya nih.” Potong papanya.”biasanya kalau lihat mie paling antusias, sekarang kok diem sih? Lanjutnya “ga kenapa-kenapa kok. Sachi lagi pusing.” Jawabnya singkat. Esok harinya, Sachi dan Ririn benar-benar dibuat jengkel dengan materi sejarah yang sangat padat dengan bacaan dan syarat dengan tanggal bulan dan tahun. Entah mengapa mereka malas sekali dengan pelajaran tersebut. Ditambah lagi pak Butet, guru mereka yang asli Batak. Beliau termasuk guru killer dan sangat menyeramkan membuat mereka tambah ogah-ogahan mengikuti pelajaran sejarah. Terkadang kejengkelan mereka bertambah ketika mereka harus menerima kenyataan kalau mereka harus kehilangan nilai hanya gara-gara salah menuliskan nama belakang penemu mesin uap dengan “wati”. Saat berganti pelajaran, sachi kaget ketika ia menemukan lembaran berwarna merah muda dengan hiasan bunga warna warni mirip surat tersisip di buku paket biologi miliknya. Dengan segera ia membuka lembaran misterius yang penuh dengan tulisan rapi itu. Kelopak matanya melebar, jantungnya mendadak berdetak sangat cepat. Ia bahkan tak percaya ia punya penggemar rahasia. Dibacanya berkali-kali isi surat itu. Sebentar-sebentar ia tersenyum geli, terkadang bibirnya sedikit membuka karena tak percaya. Pikirannya mulai keluar jalur. Ia bukan senang karena ia punya penggemar rahasia, malahan ia berpikir kalau ada orang iseng yang sengaja menyisipkan kertas manis itu dibukunya. Ketika telah dirumah, ia tak juga kunjung keluar kamar untuk makan malam. Ia terus saja memandangi surat misterius itu sambil duduk dimeja belajarnya. Tiba-tiba saja suara teriakan yang amat keras mengagetkan gadis polos itu. “mamaaaaaaaaa… Sachi beneran punya pacar!!!” kakaknya tertawa Sachi benar-benar dibuat jengkel oleh abangnya. Dia bahkan tak tahu bagaimana bisa abangnya itu bisa masuk kamar Sachi tanpa pernah Sachi mendengar langkah kaki kakaknya itu. “sialan! “ Potong sachi “siapa yang punya pacar? Aku aja ga tau siapa yang ngasih” lanjutnya dengan geram “ah…. Masa sih? Kamu pikir aku percaya?” kata abangnya yang merebut surat dari genggaman sachi. Surat berwarna merah muda itu akhirnya sampai dimeja makan dan telah dibaca oleh papa dan mama Sachi bergantian. Papa dan mamanya tertawa geli saat membaca surat itu, berbeda dengan sachi yang terlihat agak malas dengan surat yang menurutnya menghancurkan reputasinya sebagai cewek yang anti dengan cowok. Adegan memalukan dimeja makan rumah sachi berganti dengan adegan baru di kelas esok harinya. Lagi-lagi Sachi kaget karena ia mendapati surat dengan warna yang sama tergletak menganggur di laci mejanya. Diambilnya surat itu, lalu segera ia baca. ia tak habis fikir dengan penulis surat yang menggunakan kata-kata super romantis yang sukses membuat Sachi sedikit agak terbuai kemudian tersenyum simpul. Kini surat itu telah berpindah tangan. Ririn yang baru saja datang dengan sangat cepat merebut surat itu lalu membacanya dengan keras didepan kelas. Sachi gelagapan tak karuan dan akhirnya mendelik malu. Dengan segera ia menyemprot Ririn yang pasang tampang tak berdosa. Sedangkan Ririn, ia hanya melengos saja. Kini Sachi dan Ririn menyusun rencana untuk mengungkap pengirim surat misterius itu. Sampai-sampai mereka rela berangkat pagi dan pulang paling sore hanya untuk menjawab penasaran mereka pada surat itu. Benar-benar sukses membuat Sachi sangat bĂȘte. Sebenarnya Sachi tak mempermasalahkan siapa penulis dan pengirimnya kalau saja waktu itu Ririn tidak membaca surat itu secara nyaring. Gara-gara ulah Ririn yang ga karuan itu, kini ia mau tidak mau menemani sachi mencari tau, karena sachi mulai risih dengan ledekan teman-temannya yang menyangkut pautkan ia dengan surat itu. Usaha mereka tak kunjung membuahkan hasil yang signifikan, bahkan beberapa hari ini, mereka nyaris tak mendapatkan info apa-apa yang nyaris membuat mereka menyerah. Namun, semangat sachi seperti tak pernah habis. Ia terus saja sibuk mencari info sana sini. Otaknya yang memang cerdas tiada henti menyusun rencana demi rencana yang membuat Ririn bingung walau diterangkan berkali-kali. Kini, tumpukan surat cinta Sachi semakin meninggi. Ia mulai eneg membaca setiap kata-kata romantic yang dibuat pengarangnya, sampe kadang Sachi tak bisa menahan tawa. Sachi memang sedikit berbeda dengan gadis lain, ia sangat tidak suka dengan kata-kata romantis. Aneh memang, namun itulah Sachi. Sachi baru saja hendak kekantin. Perutnya sudah mulai berdemo karena dari tadi siang belum juga diisi olehnya. Sekolah sudah sangat sepi, hanya beberapa anak-anak yang pulang dari ekskul saja, termasuk ia yang berlalu lalang meninggalkan sekolah. Kedua bola matanya mulai membesar dan mulutnya sedikit terbuka ketika ia lewat kelasnya. Bahkan rasa laparnya tak ia hiraukan lagi. Ia kaget setengah mati melihat seseorang berbadan besar berisi, dengan potongan rambut cepak sedang sibuk meletakkan sesuatu yang mirip dengan surat-surat Sachi. Yozha! Ia terus saja mengamati gerak-gerik laki-laki itu. Entah mengapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak beraturan. Kepalanya tak mau berhenti bergerak ke kanan dan kekiri. Sedangkan Yozha seolah tak sadar dengan kehadiran sachi dibelakangnya. ia terus saja melancarkan aksinya sebagai penggemar rahasia Sachi. Sachi dengan gesit menghindar dari pintu ketika Yoza memalingkan tubuhnya untuk keluar. Sachi mempercepat langkahnya menuju koridor sekolah hingga akhirnya ia telah sampai di depan gerbang. Tak lama setelahnya, kakaknya muncul dengan mobil Avanzanya. Lamunannya soal Yozha buyar ketika klakson mengagetkannya. Mobil yang disetir abangnya terus melaju agak kencang. Sesekali abangnya meledek Sachi karena kekonyolannya tadi. Sachi hanya diam tak menanggapi gurauan abangnya. Bahkan ia asyik dengan buku pengetahuan yang baru Ia beli kemarin. Sesampainya dirumah, abangnya tak berhenti ketawa. Ia terus saja meledek Sachi yang sudah terlihat manyun tak karuan. Saking kerasnya suara mereka, mamanya sampai keluar hanya untuk memeriksa apakah keadaan 2 anaknya itu baik-baik saja atau tidak. Sachi dan abangnya memang konyol, mereka tak pernah melewatkan hari tanpa bertengkar, maklumlah, abangnya memang jail dan Sachi sendiri tak mau mengalah. Otak Sachi tak mau berhenti memikirkan kejadian yang terjadi tadi sore. Belajarpun ia tak konsentrasi, malah ia memainkan pensil yang ada di tangannya sambil teringat Yozha. Terkadang muncul lipatan-lipatan halus dikeningnya, sesekali bibirnya digigitinya persis kalau ia lagi bingung atau nervous. Ia benar-benar tak habis pikir dengan ulah Yozha selama ini. Memang sih ia tanpa sengaja pernah memergoki Yoza memandanginya, pernah juga Yozha melempar senyuman manis ketika bertemu di kantin, atau saat Sachi lewat bangku cowok itu. Yoza juga sering mengajak Sachi ngobrol atau menyelesaikan tugas bersama. Tapi tak pernah sekalipun Sachi berpikiran yang aneh-aneh tentang tatapan dan senyuman itu. Menurutnya hal itu wajar karena mereka adalah teman sekelas. Esok paginya saat cewek energik dan cerdas itu masuk kelas, Yozha, Ririn dan sebagian teman-teman mereka telah ada di ruangan kelas meskipun masih agak pagi. Sachi sengaja memandang Yoza yang duduk manis di bangkunya , pandangannya wajar sehingga Yozha pun membalas pandangan itu. Sachi berlalu menuju bangkunya. Sachi memeriksa laci bangkunya, terdapat sepucuk surat berwarna kombinasi antara hijau, pink dan ungu dengan motif yang sangat ceria. Sachi sebenarnya suka dengan warna dan motifnya, sehingga ia tanpa sadar tersenyum saat melihat surat itu. ‘kapan kita melakukan spionase lagi?” “gak perlu. Udah, biarin aja. Pengen gue kumpulin ini surat, terus gue bakar deh!” Sachi agak berteriak, matanya melirik kearah Yoza. …………………………………………………………………………………………………….. Di kamarnya, Sachi melempar tas berwarna krem ke ranjangnya yang empuk. Seragamnya belum ia ganti, ia langsung duduk memandangi jendela yang langsung menghadap ke taman rumahnya. Bola matanya menerawang jauh keluar tanpa tujuan jelas. Baru kali ini ia benar-benar dibuat sebal dan heran dengan seorang cowok yang menyukainya secara dian-diam. Sesekali matanya menyipit dengan helaan napas panjang yang teratur. Ketukan pintu yang agak keras memaksa menghentikan lamunan Sachi. Ia segera membuka pintu sebelum suara ketukan itu semakin keras dengan liukan suara lengking khas mamanya yang sering ngomel-ngomel kalau Sachi tak segera makan siang. Dugaan sachi tak meleset. Benar saja, mamanya telah berdiri dengan anggunnya di balik pintu yang baru saja ia buka. Sachi terpaksa harus mendengar omelan mamanya yang lumayan panjang karena ia belum berganti baju, ditambah lagi tak kunjung ke ruang makan untuk makan siang. Mama Sachi paling rewel kalau anak perempuannya itu tak segera makan. Maklumlah, sachi sudah terjangkit maagh. Semuanya telah ada diruang makan. Papa, mama Dony dan Sachi menikmati hidangan super special hasil karya mamanya. Tak ada suara manusia. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu beradu diatas piring. Papanya membuka pembicaraan. Dony dan mamanya terdengar saling bersahutan, berbeda dengan Sachi yang terlihat sangat menikmati makanan itu. Tak sedikitpun ia ingin ikut membahas masalah yang sedang dibicarakan oleh papa, mama dan abangnya itu. Sachi hampir tersedak ketika papanya membahas surat yang setiap hari dibawa Sachi sebagai oleh-oleh dari sekolahnya. Ia segera minum, abangnya terkekeh tak karuan. Sesekali lirikan sinis menghampiri abangnya. Tapi Sachi diam. Tak pernah merespond pertanyaan papanya soal surat itu. …………………………………………………………………………………………………. Yozha segera menghentikan langkah Sachi ketika mereka berjumpa di gerbang sekolah. Mereka kini jalan berdua menuju kelas. Selama perjalanan Sachi membisu, namun mendengarkan semua perkataan yang terus terucap dari mulut Yozha. Sebenarnya Sachi ingin bertanya tentang surat itu kepada Yozha, tapi dari lubuk hatinya, ia takut, karena mungkin saja bukan Yozha yang membuat surat itu. Bisa saja ia hanya dimintai bantuan oleh penulis surat itu. Tiba-tiba hatinya bergemuruh. Dengan hampir bersamaan, mulut mereka mengeluarkan kata-kata. Setelah berdebat beberapa saat, Sachi dapat giliran pertama untuk berbicara. “aku pernah memergoki kamu meletakkan surat cinta kedalam laci mejaku.” Dengan agak ketus ia berkata ada Yozha. Matanya lurus kedepan. “maaf, pasti kamu salah paham. Sebenarnya bukan aku yang ngasih surat itu.” Yoza menjawab dengan santai “sudah kukira.” “lalu? Apa masalahnya?” “kamu disuruh seseorang?” langkah Sachi terhenti diikuti Yoza. “aaah, sudahlah. Lupakan saja. Tak perlu kau jawab!” ia meningggalkan Yoza begitu saja dihalaman sekolah. Setelah kejadian itu, Sachi menjadi agak pendiam dan enggan lagi menanggapi surat-surat yang semakin gila beredar di laci meja Sachi. Walaupun setiap hari ada, dan setiap hari pula Sachi membacanya, tetapi ia langsung merobek surat itu dan melempar seenaknya ke tempat sampah dekat pintu. Sachi tak kuat lagi menahan semua ejekan teman-temannya. Dengan ketetapan hati, ia akan menyelidiki siapa pengirim surat itu hari ini juga, ia bertekad untuk mengadili pelakunya dan membuat pelakunya malu atas apa yang ia lakukan selama ini. Setelah bel pulang, Sachi dan Ririn tetap melekat pada kursi mereka. setelah semua siswa keluar dari kelasnya, mereka baru beranjak untuk menyisir seluruh area sekolah. Lama sekali mereka mengelilingi setiap sudut sekolah, tiba-tiba langkah Sachi terhenti. Matanya melebar seolah ingin meloncat keluar. Mulutnya sedikit menganga. Ia segera memberi aba-aba kepada Ririn untuk berdiri di belakang Sachi. Setelah sekian lama mengamati seseorang itu, sachi yakin ia mengenal baik orang misterius itu. Sachi sangat mengenalnya, cara orang itu berjalan, tubuhnya, dan semua tingkah lakunya. Sachi mengenalnya! Jantungnya mendadak berdetak sangat kencang. Tubuhnya panas dingin, lalu ia memberanikan diri menghampiri orang itu. Ia menyentuh pundak orang yang kini berada di depannya. Dan, dengan segera orang misterius itu menoleh dengan senyuman simpul dibibir mungilnya yang berhasil membuat hati Sachi mendesir hebat. “Sachi.” Kata orang itu terbata “apa yang kau lakukan di kelasku?” Sachi basa-basi. “itu surat siapa? Oh, kamu naksir teman sekelasku ya? lanjutnya dengan sedikit senyuman. “i….iya, lebih tepatnya aku naksir kamu.” Wajah orang itu tertunduk. “Helmi….” Bentak Sachi. Ia menarik napas panjang. “kenapa harus dengan cara ini sih? Kamu ga tau kan gimana ejekan teman-temanku? Aku risih, aku sering ga konsen. Kamu itu kenapa sih? Jangan kayak anak kecil gitu deh.!” Nada suara Sachi meninggi. “maaf, tapi aku ga tau harus gimana. Soalnya kan kamu udah terkenal kalau kamu ga suka sama cowok manapun di sekolah ini. bahkan sempet ada desas-desus kalau kamu suka sama sejenis. Padahal yang suka kamu banyak.” Dengan polosnya Helmi menjawab. “ Sejenis apa? Jangan ngasal deh. Kalian salah.” Jawab Sachi sebal. “jadi?” “jadi apa?” Ia duduk. Bola matanya memandang Helmi lekat. “apa jawabanmu? Aku mencintaimu. Kamu ga mau jadi pacarku? Aku lumayan ganteng lho, ga kalah deh sama Orlando Bloom.” Helmi berkelakar. Sachi tak bersuara, mulutnya menganga. Buku paket biologi yang ada di tangannya ia arahkan kepundak Helmi 3 manusia yang sedang berdiri diantara kursi kosong itu terdiam. Mereka tertawa penuh bahagia karena tuduhan teman-teman kalau Sachi tidak suka seorang cowok terpatahkan karena Helmi berhasil membuat hati Sachi terbuka. Jadi selama ini Sachi memendam perasaannya kepada Helmi karena Sachi mengira Helmi sudah punya pacar. Tetapi Sachi tidak menjadi pacar Helmi. Mereka berjanji akan melanjutkan sekolah mereka terlebih dahulu.
Home »
Penggemar Rahasia
babyliss pro titanium 1 - iTaniumArts
BalasHapusOur titanium septum ring patented titanium dive watch and revlon titanium max edition advanced design allows you to titanium flat iron design and test new designs for the world's most popular and profitable gaming titanium bike frame products.