Bau khas tanah basah karena gerimis merambah indera penciuman Yuna. Tubuhnya mematung memandangi sosok laki-laki yang sedari tadi duduk di depan ruang perpustakaan. Yuna beruntung mendapatkan kelas yang langsung berhadapan dengan perpustakaan. Ia bisa kapan saja keluar masuk perpustakaan. Dan yang paling penting, ia bisa sering bertemu dengan Arjuna, pujaan hatinya yang ia sukai dari kelas 1 SMA. Yuna tak menghiraukan setiap langkah kaki yang lalu lalang, termasuk langkah kaki Sarah, sahabatnya dari SMP. Sarah menggerak-gerakkan tangannya didepan mata Yuna yang terus menatap lurus kedepan. Yuna tak bergeming. Entah karena memang saking sebalnya, akhirnya Sarah mencubit lengan Yuna. “Aduhh” rintih Yuna “Gila, sakit tau.” “Hehehe, masuk kelas yuk” kata Sarah santai Mereka lalu masuk kelas dan memperhatikan setiap pelajaran yang diberikan oleh guru dengan seksama. Mereka tak ingin menjadi orang yang merugi dimasa depan karena menyepelekan pendidikan. ……… Malam itu, Yuna terus memandangi foto Arjuna yang sedang berpose di puncak Semeru yang ia dapatkan dari Sarah sambil sesekali menyeruput jus jambu kesukaannya. Ia tak habis pikir dengan sarah yang bisa dengan mudah mendapatkan foto Arjuna, padahal ia sama sekali tak pernah melihat Sarah dan Arjuna ngobrol. “Ya, begitu. Liat terus foto itu kalo kamu lagi kangen. Dan bilang, senyumnya gak usah dimanis-manisin. Gak bakalan manis juga.” Cerocos Sarah. “Woy, kok kamu sih yang sewot gitu.” Tanya Yuna sambil menyelipkan foto itu dibukunya. “Habisnya aku sebel sama kamu. Udah tau dia gak pernah ngerespon perasaanmu, tapi tetep kamu suka dia. Gak capek buk?” Sarah tergelak. Yuna membisu. Ia teringat dengan Aaron, cowok yang menyukainya dan sudah menembaknya lima kali tetapi ia tolak. Lamunan Yuna buyar ketika ia mendengar suara berisik dari ujung kamarnya. Tiba-tiba pintu terbuka, dan muncul wajah yang sangat ia kenal. “ada apa Bang Rio?” Tanya Yuna pada Rio, abang semata wayangnya. “disuruh mama keruang makan.” Kata Rio sambil menutup pintu, Yuna dan Sarah mengekori Rio. ….. Malam begitu indah. Dari jendela kamar Yuna memandang kearah taman didepan kamarnya. Ia merenung tentang perasaannya kepada Arjuna yang tak pernah terbalas walau dia telah berusaha keras mengambil hatinya. Lama sekali hingga pipinya basah oleh air mata. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera bangkit dari tempat duduknya dan mematikan lampu kamarnya untuk tidur. Pagi pagi sekali langkah kaki Yuna memasuki gerbang sekolah, secepat mungkin ia ingin segera sampai dikelas untuk mengabari Sarah kalau ia ingin melupakan Arjuna. Bola matanya seolah ingin keluar ketika ia melewati laboratorium bahasa. Ia melihat pemandangan yang menyayat hati. Tubuhnya gemetar. Ia hampir saja pingsan. “Sarah. Kamu…” pekik Yuna. Sepasang insan itu terkejut. Mereka menghentikan obrolan dan segera berdiri. Sama seperti Yuna, Sarahpun terkejut, matanya agak basah. Arjuna mengusap wajah dan rambut hitamnya. “Yuna. Aku… aku..” Sarah kehilangan kata-kata. “Oke. Seharusnya aku tidak lewat sini tadi” Yuna membalikan badan. Napasnya sangat sesak sampai langkahnyapun sempoyongan. “Yuna, tunggu, aku bisa jelaskan semuanya.” Sarah agak berlari, tapi tangan Arjuna segera menarik tubuhnya, “Percuma. Dalam situasi hatinya yang enggak tenang dia gak bakalan bisa terima semua penjelasan kita” Kata Arjuna bijak. Sarah terdiam, jari-jarinya sibuk mengusap air mata. Napasnya tak beraturan. Bola matanya memandangi Yuna yang perlahan tapi pasti menghilang. Yuna terus terisak. Perasaannya yang kacau membawa langkahnya jauh dari tempat itu. Diperpustakaan ia duduk menenangkan gejolak dihatinya sambil mengatur nafas. Ia teringat dengan Aaron yang selama ini begitu peduli dengan dia dibanding Sarah dan Arjuna tapi ia malah sia-siakan. Ia juga masih sangat kecewa dengan tingkah Sarah yang selama ini ia anggap sebagai sahabat paling baik sedunia. Setelah kejadian itu, ia tak pernah lagi berbica dan berurusan dengan Sarah. Terkadang ia sangat muak bersandiara didepan teman-teman dengan bermanis-manis ria dengan gadis itu. Lima tahun berlalu. Kini Yuna dan sarah telah menjalani kehidupan mereka sendiri sendiri sebagai seorang mahasiswa. Hari ini adalah hari dimana Sarah diwisuda, senyum selalu tersungging dibibirnya. Ia masih berharap Yuna datang diacara wisudanya. Kedua matanya yang dihiasi kaca mata menangkap sosok berkulit putih, anggun dan tinggi semampai yang dibalut dengan gaun warna baby pink. Jantungnya berdetak tak beraturan ketika sosok itu semakin mendekat. Sarah menganga tak percaya Yuna akan datang dihari bahagianya itu. Yuna membuka kedua lengannya yang segera disambut dengan pelukan rindu Sarah. Rindu yang selama ini mereka tahan akhirnya luruh bersama dengan air mata bahagia mereka. “Cieee… Wisuda nih ye.” Kata Yuna. Sarah tak bersuara. Air matanya masih berjatuhan. “Kok nangis? Harusnya seneng dong, udah wisuda.” Lanjut Yuna. Sarah mengatur napasnya. Mulutnya masih tak mampu mengeluarkan kata-kata. Agak lama, hingga akhirnya ia bersuara. “aku bahagia.sangat bahagia” kata Sarah “Aku pikir kamu gak akan datang kewisuda aku. Maaf Na, aku sempat mengecewakanmu. Aku memang teman yang jahat. Mungkin kamu telah mengutukku waktu itu. Aku gak apa-apa. Aku memang pantes dapat itu dari kamu.” Lanjut Sarah panjang lebar. Ia masih terisak “Hentikan!” perintah Yuna. “Aku memang sempat kecewa. Tapi aku udah dengar penjelasan dari Arjuna. Kemarin aku bertemu dia di kampus. Aku baru tahu loh kalau aku sekampus dengan dia. Sebenarnya aku yang salah. Bener gak sih kalau kamu lebih dulu suka sama Arjuna dari pada aku? “ Yuna menatap Sarah. sorot mata Yuna seolah meminta penjelasan. “Kamu lebih mencintai dia Na.” Kepala Sarah menunduk. “ Kenapa sih kamu enggak bilang dari dulu kalau kalian saling cinta? Kalau sikonnya begitu kan akan lebih baik kalau kamu dan Arjuna bersatu.” Yuna tersenyum “Tapi kamu sangat mencintai dia.” “Bukan, setelah aku pikir-pikir aku tidak mencintai dia. Ada orang yang selama ini lebih mencintai aku, dan aku juga mencintai dia. Aku memang bodoh sudah menolaknya dulu. Tapi sekarang aku gak akan membuat kesalahan lagi dengan menyia-nyiakan dia.” Suara Yuna memelan “Aaron?” Sarah mencoba menerka. Yuna menganguk sambil tersenyum. “Oke, sekarang lihat siapa yang datang” kata Yuna sambil mengkode seseorang untuk segera muncul dihadapan mereka. Pupil mata Sarah melebar. Jantungnya bergemuruh ketika seorang laki-laki yang sangat ia kenal ada dihadapan mereka. “Lakukan sekarang Jun. Jangan lama-lama” perintah Yuna pada Laki-laki itu. Arjuna segera berlutut dihadapan Sarah. Mulutnya mengeluarkan kata-kata yang begitu menggetarkan jiwa. Semua mata terpukau melihat pengakuan perasaan seorang laki-laki pada perempuan yang ia cintai. Sarah menangis tapi senyum mengembang dibibirnya. Sarah masih tak percaya Arjuna masih setia pada dirinya. Tepuk tangan riuh ketika Sarah mengangukan kepala menerima ungkapan perasaan Arjuna. “Resikonya kalau kita telah mencintai seseorang adalah kita harus siap kehilangan seseorang itu, kapanpun”—theSunrise