MELEPAS SENJA Terik mentari membakar tubuh seorang gadis manis. Ia mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke rumah. Ia ingin segera berlindung di tempat nyaman itu. Pintu kamarny ia buka lalu ia merebahkan tubuhnya yang semampai diatas kasur empuk. Tak terasa ia terlelap. Matanya terbuka ketika telepon genggamnya berbunyi. “Enolaaaa… Enola Sarassati! Astaga. Berapa kali aku meneleponmu?” Teriak suara dari sebrang “Ehehe, maaf. Habisnya aku capek sekali tadi habis nganterin Andre beli sesuatu.” Enola menjawab santai “Eh? Andre? Beli apaan dia?” “Enggak apa-apa kok.” Jawab Enola, matanya masih sedikit terkatup “Errr.. kapan pertemuan untuk ngebahas planning kita kepuncak? “aku lupa Alena, maaf.” Enola masih malas menjawab telepon. “Dasar, planning kita aja dilupain, masa kamu gak bisa ngelupain Sena sih.” Enola menutup telepon tanpa permisi. Ia tertegun. Memori otaknya kembali membuka ingatan tentang Sasena, laki-laki yang telah menemani hidupnya selama dua tahun terakhir, dan kini mereka telah berpisah karena tingkah Sasena yang bermain serong dengan gadis lain. Kebahagiaan yang selama ini mereka lalui terenggut sudah bersama sakit hati Enola pada laki-laki itu. …. Empat bulan berlalu. Enola telah melupakan Sasena sedikit demi sedikit. Tetapi kali ini, bersamaan dengan mobil yang melewati cafĂ© favorit mereka, ingatan itu masuk kembali ke otak Enola dengan liciknya, membuat Enola sulit bernapas. Tubuhnya mendadak panas, padahal ia berada di mobil ber AC. Air mata membasahi pipinya untuk kesekian kalinya. Entah mengapa ia menjadi amat rapuh jika mengingat segala tentang Sasena. Mobil yang Enola kendarai melaju meninggalkan tempat kenangannya bersama Sasena. Ia menuju toko buku untuk membeli beberapa keperluan tulisnya yang mulai habis. Saat hendak masuk, tubuhnya menyenggol seorang wanita. Jantungnya bergemuruh hebat. Ia mengenal wanita itu. Sangat mengenalinya bahkan. Wanita yang ia pergoki sedang berduaan dengan Sasena disalah satu toko sepatu empat bulan lalu. Wanita itu tertunduk malu dan membisu. Mata Enola mengarah pada papan nama yang tertempel di kemeja yang wanita itu kenakan. Tertulis dengan sangat jelas, HANUM. Bibir Enola sedikit tertarik keatas. Tanpa banyak bicara, Enola segera masuk walaupun napasnya masih tak beraturan. Ia menahan emosinya, kalau saja ia tak mengontrol diri, pasti tangannya telah melayang pada wajah wanita itu. …. Enola sedang duduk manis di perpustakaan kampus sendirian, membaca beberapa buku sastra lama yang memang ia kagumi. Enola memang lebih senang sendiri atau ditemani dengan Alena dan Bastian, sahabatnya. Mata Enola mulai lelah, sehingga ia memutuskan untuk mengembalikan buku itu ketempatnya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan gadgetnya. Selain ia hobi membaca, ia juga hobi berselancar didunia maya. Kali ini ia memperbarui timeline twitter miliknya, menyisipkan kata-kata yang penuh makna dan sesuai realita. Ia melamun, hingga langkah kaki milik Alena dan Andre tak ia hiraukan. Ia tersadarkan oleh suara kursi yang dibuat oleh Andre. “Ngalamunin apa sih En?” Andre penasaran. Pantatnya ia jatuhkan diatas kursi, kemudian membuka buku fisika kesayangannya “enggak kok.” Enola menggeleng. “Halah, alibi. Pasti keinget lagi deh sama Sasena” kata Alena yang sibuk dengan gadgetnya. “dibilangin jangan lagi inget-inget dia juga, percuma!. Dia gak akan kembali, terus berlutut didepan kamu dan menangis menyesali perbuatannya kan? Lanjutnya panjang. Enola tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak diparu-paru lalu menghembuskannya dengan penuh kerendahan, kepalanya menganguk membenarkan kata-kata yang baru saja terucap dari bibir mungil Alena. Lalu ia kembali sibuk dengan gadgetnya. Matanya menangkap sebuah nama yang baru saja meretweet kicauan yang barusaja ia update. Tanpa ia sadari ia menstalking akun itu, akun milik Bayu Pramadi. Akun yang berhasil menarik perhatian Enola karena isinya yang penuh dengan kata-kata motivasi. Ada sedikit senyum tergambar dari bibir Enola yang tak sengaja ditangkap oleh Andre, membuat Andre yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. “Ehem. Gadgetnya ada gambar apa sih, kok senyum gitu?” Kata Andre yang sedikit melirik Enola. Enola dan Alea menoleh kearah Andre hampir bersamaan. Dahi mereka sama-sama berkerut. “Bukan kamu Al, tuh sampingmu.” Kepala Andre mengarah pada Enola yang diikuti oleh Alea. “Hehehe, gapapa kok. Ini lagi baca tweet motivasi. Bagus banget deh.” Enola tersenyum. Ia kemudian melirik arloji yang terpasang manis ditangannya. “Eh, udah Sore. Pulang yuk.” Katanya sembari menyambar ransel yang berada disampingnya lalu menyelipkan gadgetnya kedalam ransel itu. Mereka lalu meninggaklan perpustakaan yang semakin sepi. Enola sedang duduk manis didepan tumpukan buku yang akan ia baca untuk ujian minggu depan. Kepalanya terasa berat. Ia berusaha memaksakan semua mata kulaih masuk dalam otaknya, tapi sia-sia. Ia menutup buku, bola matanya menatap lekat langit malam lewat jendela yang masih terbuka. Sesekali ia menarik napas panjang. Ia kembali teringat dengan akun twitter milik Bayu Pramadi. Entah mengapa akun itu sangat menarik perhatiannya, membuat ia seolah melupakan kegalauan hatinya. Lamunannya buyar ketika terdengar dering dari HP miliknya. Ia membalikkan badan lalu mengambil HP yang berada disamping tumpukan buku. Ia membuka pesan singkat yang ia terima tanpa membaca terlebih dahulu pengirimnya. Ia membaca isi pesan singkat itu sampai habis. Matanya memanas ketika ia menemukan bahwa pengirim pesan itu adalah Sasena. Seketika, ia merasa kekurangan banyak oksigen, dadanya sesak, matanya memanas. Bisa kau menghubungiku kembali setelah apa yang kau lakukan terhadapku empat bulan yang lalu? Semudah itukah kau meminta maaf atas semua kesalahanmu? Enola bergumam sendiri. Ia tak membalas pesan singkat itu, hanya butir demi butir air mata membasahi pipinya. Kini setelah ia berusaha sangat keras untuk melupakan Sasena, laki-laki itu datang kembali dalam kehidupannya dan merusak segalanya. …. Enola tak bertingkah seperti biasanya, ia lebih banyak terdiam dan terlihat sangat murung. Bahkan ia terkesan menghindar dari Andre dan Alena. Seharian ia hanya mengurung diri di kelas. Ia masih terus teringat dengan kejadian kelam yang ditorehkan Sasena dalam hidupnya. Matanya terpejam. Ada ribuan sesal mengapa dahulu ia mencintai laki-laki itu. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Ia membuka kembali matanya yang terkatup dan berselancar didunia maya. Ada pesan ditwitter miliknya. “Kegalauan hati hanya akan menyiksa diri kita. Hapuslah sedikit demi sedikit, lupakanlah semua kepahitan yang pernah mereka torehkan. Ikhlaskan, karena hanya dengan cara itulah kita bisa mempercepat melupakan. Bukankah semua ini membuat kita semakin kuat dan membuat kita tak lekas mempercayai omongan manis seseorang? So, be wise. Don’t ever look back again, face the future. ” pesan dari seseorang yang tak pernah ia sangka. Bayu Pramadi. Ia tercengang namun dengan sangat seksama membaca pesan itu. Enola bergeming. Ia berpikir sejenak. “benar juga apa yang dikatakan orang ini” batinnya. Enola bagai tersihir oleh kata-kata mutiara laki-laki itu. Ia tersenyum dan jari-jarinya mengetik balasan untuk Bayu. “Bukan aku tak mau melupakan, aku berusaha keras melupakan, tapi ia kembali lagi dan menghancurkan semuanya. Bahkan ia seolah tak punya dosa.” “Dasar laki-laki tak bertanggung jawab! Berusahalah untuk tak membalasnya.” Balas Bayu beberapa detik kemudian. Enola dan Bayu seperti sudah bertemu. Mereka menjadi semakin akrab dan tak canggung untuk bercerita tentang masalah masing-masing, Enola yakin bahwa Bayu bukan tipe laki-laki seperti Sasena yang bisanya Cuma mainin perasaan. Enola juga tau kalau Bayu pernah mengalami hal serupa dia, diselingkuhi. Kini wajah Enola berubah menjadi lebih cerah, bibirnya kembali menebar senyum. Jarum jam dinding yang tergantung di dinding kamar Enola menunjuk angka 22.00. matanya hampir terpejam, namun kembali membuka ketika HPnya berdering sangat keras. Ia membaca layar HPnya. Tepampang barisan nomor 12 digit disana, dahinya menyerngit lalu ia menekan tombol bergambar ganggang telepon warna hijau. Tak lama setelah ia berkata “halo” ia mendengar suara yang sangat ia kenal dari seberang. Suara milik Sasena. Suara itu mencoba berdialog dengan Enola namun tak ditanggapi Enola. Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat kaku. Matanya kembali mengeluarkan air mata, ia menutup telepon dan membantingnya keatas tempat tidur. Ia merunduk dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya semakin menjadi. Dadanya sesak, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali ponselnya berdering, kali ini Sasnena menghubunginya lewat SMS, namun tak juga di tanggapi Enola.Enola mematikan ponselnya, kepalanya terasa berat, ia mencoba memejamkan mata walau perasaannya kacau. “Enola, kamu kenapa sih, engga biasanya kamu seperti ini. lebih banyak diam, pesen makanan ga dimakan, berkali-kali menghela napas panjang. Kamu kenapa?” kata Alena keesokan harinya ketika mereka sedang ada dikantin. “enggak apa-apa kok. Aku lagi enggak enak badan aja.” Kata Enola yang akhirnya menyeruput jus jeruknya. “kamu kenapa-kenapa El, cerita deh ada apa?” Alena mendekat kepada Enola Enola menarik napas panjang dan menghentikannya sebentar diparu-paru. Bola matanya memancarkan kesedihan. “semalem Sasena menelepon aku Al, aku ga tau kenapa dia tau nomor HPku yang baru, padahal enggak ada teman-temannya yang pernah aku hubungi kan? Aku juga di SMS, dia minta ketemuan dengan aku. Tapi engak aku balas. Aku menonaktifkan HPku sampai detik ini.” Enola terisak. “Aku enggak sanggup Al, kenapa dia datang lagi? Kenapa dia seolah tak punya salah? Luka di hatiku masih basah Al, tapi dia menaburi garam pada lukaku.” Lanjutnya. Ia masih tersak. Tangan lembut Alena mendarat dipunggungnya. Mengusapnya dengan penuh perasaan. “Sabar ya En, mungkin ini ujiannya melupakan seseorang, tapi kamu jangan khawatir, suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari dia, karena laki-laki yang baik, untuk wanita yang baik pula.” Kata Alena sambil memeluk Enola. Enola menyeka air matanya. Ia mencoba menata kembali emosinya. Tak lama Andre datang. Ia mengambil tempat duduk langsung berhadapan dengan Enola. Ia menangkap sesuatu yang aneh pada wajah Enola saat Enola menengadahkan wajahnya, namun Andre terdiam, ia melihat Alena, sorot metanya seolah mencari penjelasan. Namun ketika Alena bungkam, ia kemudian menyantap makanan yang ia pesan. Sedangkan Enola, ia kembali berselancar, kembali mengobrol dengan Bayu yang mampu membuatnya tentram. Mereka semakin jauh terjebak dalam dunia yang semu, hingga sampai mereka bertukar nomor telepon dan berencana untuk bertemu. Hari berganti hari, begitu pula Enola yang telah melupakan sebagian kisah kelamnya bersama Sasena. Wajahnya semakin cerah karena setiap hari, bahkan setiap saat ada sahabatnya yang selalu mendukugnya, terlebih Bayu yang mampu mengobati luka yang ditorehkan Sasena. Baginya Bayu adalah sosok yang ramah dan baik. Hari ini Enola, Alena dan Andre berkumpul untuk membicarakan rencana mereka pergi liburan. Mereka ingin merefresh pikiran yang berbulan-bulan dijejali dengan materi kuliah, tugas dan masalah-masalah yang tiada henti menghantui. Kali ini Enola dan Andre yang paling antusias, bola mata mereka berbinar-binar karena mereka sedang merencanakan sesuatu. Ponsel milik Enola bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ia segera membuka pesan itu, pesan dari Sasena yang isinya dia ingin bertemu. Seketika wajah Enola memerah. Ada amarah yang terpancar dari wajahnya. Ia menarik napas, menahan air matanya yang hendak terjatuh. Setelah membaca pesan itu, ia menekan tombol delete dan segera memasukkan ponselnya kembali kedalam saku dan mencoba mengabakan apa yang baru saja terjadi. Ponsel Enola kembali bergetar tepat lima menit setelah acara rapat selesai. Kali ini bukan Sasena, melainkan dari Bayu. “Hai En selamat pagi. Aku ganggu kamu enggak?” “Selamat pagi Bayu. Enggak kok. Kenapa?” Balasnya. “En, kan kita udah lama berhubungan lewat dunia maya. Apa kamu enggak mau kita berhubungan di dunia yang nyata? Maksudku, setidaknya kita bertemulah, siapa tahu bisa jadi sahabatmu.” Balasnya kemudian. “Emmmm.. boleh sih, kapan?” “Hari sabtu ini, gimana? Jam 19.00 ya, ku tunggu di alun-alun kota Kudus” “All right Bayu, bisa diatur kok. Tapi aku bawa temenku ya, soalnya ga baik laki-laki sama perempuan ketemu malem-malem berdua.” Enola membaca sekali lagi pesan yang hendak ia kirimkan ke Bayu sebelum ia menekan tombol send. “Oke, gak apa-apa. Tadinya juga aku mau bilang itu ke kamu. Eh, kamunya udah pinter aja.” Enola menarik kedua sisi bibirnya keatas, membuat Andre dan Alena saling berpandangan melihat tingkahnya. Enola tak berkata sepatah katapun, ia hanya mengangukkan kepala tak jelas. “Kalian mau enggak besok hari Sabtu ke alun-alun kota?” Ucap Enola memecah keheningan. “Mauuuu” Teriak Andre dan Alena bersamaan “Tumben?” Kata Alena memandang Enola dengan penuh penasaran “Ihhh, gausah gitu litanya.” Tangan Enola mencubit pipi Alena Hari-hari Enola berubah menjadi hari yang membahagiakan walau terkadang pesan singkat dari Sasena mampir keponselnya dan sesekali Enola membalas pesan menyebalkan itu. Enola telah banyak melupakan kenangan tentang Sasena yang sempat membuat hatinya kalut dan membuat kepalanya terasa berat. Semua karena ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang dikasihinya, sahabat yang selalu ada dan selalu mendukungnya bagaimanapun keadaan Enola. Hari yang ditunggu-tunggu Enola datang. Ia telah berada di salah satu restoran yang ada di alun-alun kota Kudus bersama dengan Alena dan Andre. Mereka sengaja duduk di sebelah sudut restoran supaya bisa dengan leluasa melihat tamu yang datang. Beberapa kali ia melihat seorang laki-laki datang yang ia kira Bayu, tapi ternyata ia salah. Dan ketika ia sedang bergurau dengan Andre dan Alena, ada seorang laki-laki datang mengagetkan mereka. “Enola Sarassati?” kata laki-laki itu. Enola segera menoleh kearahnya. “Ya, saya sendiri. Kamu?” Enola kemudian Berdiri. Laki-laki itu tersenyum, mengulurkan tangannya yang disambut dengan tangan Enola. “Bayu Pramadi. Teman chattinganmu.” “Bayu? Hai, oh silahkan duduk.” Bayu menarik kursi yang ada disamping Andre dan segera mengkode pelayan untuk menyiapkan hidangan untuknya. Bibir Alona tak henti menyunggingkan senyum dan mengenalkan Bayu kepada Alena dan Andre. Mereka berbincang-bincang dan anehnya mereka seperti sudah saling mengenal sebelumnya, akrab sekali. Tiba-tiba Alena dan Andre permisi untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan Enola dan Bayu berbincang berdua. Ditengah perbincangan mereka, sesosok laki-laki tinggi besar menghampiri mereka. Enola memandang laki-laki itu denan sorot mata yang penuh dengan kebencian dan kekecewaan. Sedangkan Bayu, ia hanya diam, bola matanya mengawasi laki-laki tinggi besar itu. “Oh, jadi kamu kayak gini El?” Ucap laki-laki itu. “Jadi ini alasan kamu. Di telepon enggak pernah mau angkat, di SMS gak dibales!” Lanjut laki-laki itu. Nada suaranya meninggi. Enola bungkam. ia segera menyambar tas yang ada disampingnya dan mengajak Bayu pergi. Belum sampai selangkah, tangan laki-laki itu berhasil menghalanginya. “Ih, lepaskan Sasena!” Perintah Enola sembari mengibaskan tangan Sasena, namun pegangan Sasena terlalu kuat. “Lepaskan!” Nada suara Enola tak kalah dengan nada suara Sasena. “Aku enggak akan melepaskan tanganku sebelum kamu kembali lagi sama aku!!” “Lepaskan!” kamu jahat Sas! Kamu jahat! Kamu enggak tahu betapa sakitnya hatiku.” Enola terisak. “Bisa tolong lepaskan tangan Enola?” Kata Bayu sembari mencoba melepaskan pegangan Sasena. “Siapa kamu?” Mata Sasena memencarkan amarah. “Kamu yang siapa? Kamu tahu kan, kita udah enggak ada hubungan lagi semenjak kamu berhubungan dengan wanita itu? Wanita yang seribukali lebih sempura daripada aku? Wanita yang berhasil membutakan matamu? Kamu tuh. Arrrggggghh!!” Enola bercucuran air mata dan berlari meninggalkan tempat itu. Bayu mengekori Enola yang masih terisak. Sasena mematung dan membiarkan Enola dan Bayu berlalu. Enola menuju tempat duduk yang berada ditaman untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau. Ia menarik napas panjang berkali-kali. Bayu duduk tepat disamping Enola. Mencoba untuk menenangkan emosi gadis itu. Ia merogoh saku celana, lalu diekluarkannya sapu tangan dan menyodorkan ke Enola. “Makasih Bay.” Kata Enola yang mencoba tersenyum “Menangislah jika itu membuatmu lega En” kata Bayu kemudian Enola tersenyum. Ia tak menjawab kata-kata Bayu. “Dulu aku mencintai dia dengan cara sederhana Bay, dan sekarang aku juga akan melupakan dia dengan cara yang paling sederhana.” Kata Enola memecah keheningan “Lupakan En, laki-laki seperti itu enggak pantes dapet cinta tulus kamu.” “Kamu sekarang tau sendiri dia kayak gimana kan?” Bayu terdiam. Kepalanya menganguk pelan. Matanya menata Enola lekat. Ada desiran aneh yang hinggap dihati bayu kala ia melihat Enola menangis. Rasa yang sedang ia rasakan sebenarnya bukan tanpa alasan. Ia telah menemukan kenyamanan dengan perempuan disampingnya ketika ia mulai chattingan dengan Enola. Dan sekarang rasa itu bertambah ketika ia melihat ketulusan disorot mata Enola. …. Dua bulan telah berlalu, Enola sedang berkemas untuk acara liburannya ke karimun jawa bersama dengan Alena, Andre dan…Bayu. Ya, Bayu ikut dengan mereka karena Bayu juga ingin merefresh pikiran yang selama sebulan penuh dibebani dengan berbagai masalah hidup yang lain. Setelah semua beres, ia melirik jam dinding yang menunjukkan ppukul 07:00, kemudian ia bergegas untuk meluncur kerumah Alena. Rencananya mereka akan berangkat dari rumah Alena dan mengendarai mobil Alena. Kini ia telah berada di rumah Alena, dan ia melihat Andre dan Bayu telah bersiap sedia dengan tas ransel mereka yang lumayan besar. Mereka melihat Enola dari kejauhan dan mengkodenya untuk segera masuk mobil karena mereka akan langsung berangkat. Sepanjang perjalanan ke Karimun Jawa, mereka banyak bercanda dan terkadang menikmati pemandangan yang tersaji. Mulai dari keramaian penduduk yang sedang beraktivitas dan hamparan sawah dengan padi yang telah ranum. Alena dan Enola sedang tidur di jok belakang sedangkan Andre menyetir mobil sambil ditemani perbincangan hangat dengan Bayu. tak sengaja Bayu melirik Enola dari kaca yang tergantung di depan mobil. Mata Bayu enggan berpaling dari pemandangan yang menggetarkan hatinya itu. ada rasa kekaguman yang begitu besar didalam jiwa Bayu. Tanpa sepengetahuan Bayu, Andre tak sengaja melihat Bayu mengamati Enola yang sedang tidur. “Kamu suka dia Bay?” “E-ehh, enggak kok.” Bayu gagap. Ia memalingkan kepalanya. “Gausah bohong Bay, keliatan banget dari matamu. Mulut bisa bohong, tapi body language enggak akan bisa bohong.” Kata Andre yang masih focus menyetir. Ia sedikit tersenyum Bayu membisu. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepada Enola yang sudah terlanjur jauh. Tetapi ia takut untuk mengungkapkan karena ia tahu luka hati Enola masih belum kering sempurna. Ketidakberanian itulah yang membuat ia menjadi penggemar rahasia Enola. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, mereka telah sampai di Karimun Jawa. Kegembiraan amat tergambar dengan jelas di wajah mereka, mereka lalu menyewa penginapan untuk beberapa hari. Sore harinya, mereka sedang berada dibawah tenda untuk menikmati keindahan Karimun Jawa. tiba-tiba Enola berdiri dan menarik tangan Bayu untuk ikut dengan dia, Bayu tak menolak. Ia mengekori Enola yang berjalan lumayan cepat. Sedangkan bola mata Andre mengikuti gerak Enola dan Bayu. “Eh En, ada apa ini?” Tanya Bayu ketika Enola berhenti dibawah pohon kelapa. Mereka kemudian duduk berdampingan. “Andre Bay.” Mata Enola bertemu dengan miliknya yang berhasil membuat riuh hati Enola. “Andre mau nembak Alena.” “Haaaa?” “Iya Bay, dia udah lama tuh mendem rasa buat Alena.” Enola melihat Andre dan Alena dari kejauhan. “Liat deh.” Kepalanya mengarah pada Alena dan Andre yang sedang duduk berdua. Tak ada kata yang sanggup mereka ucapkan. Mereka merasakan kenyamanan dalam diam. mencoba berbahasa meski lidah tak mampu merangkai kata. Dalam senja, dalam hening yang nyata mereka mencoba mengenal degup yang sama. “Enola.” Bayu memandang lekat wajah perempuan disampingnya. Begitupun Enola. Ia juga memandang lekat wajah Bayu yang baginya penuh dengan kehangatan dan mampu membuat hatinya bergemuruh. Berkali-kali ia menarik napas untuk sekedar menenangkan hatinya yang kacau. “Boleh enggak aku selalu datang menemani kamu?” “Boleh lah Bay, kan kamu temen aku.” Enola tersenyum “Aku gak Cuma pingin jadi temen kamu En, aku pengen menemanimu menatap masa depan. Aku pengen mengobati lukamu. Aku pengen menjadi teman hatimu.” Mata Bayu berpautan dengan mata Enola. Jantungnya bertambah keras berdegup. “Aku mau Bay.” Enola menunduk. Bayu memeluk Enola erat. Kebhagiaan jelas terpancar dari bola mata mereka. Enola merasakan bibir Bayu mendarat singkat di keningnya. Mereka lalu bergandengan menghampiri Alena dan Andre yang sedang duduk dibawah tenda. Mata mereka juga memancarkan kebahagiaan, sama seperti Enola dan Bayu. Mereka kini sedang menikmati gemerlapan air laut yang berwarna keemasan karena terpantul oleh sinar matahari sore. Mereka akan segera melepas senja yang begitu indah. Namun teramat indah bagi Enola yang berhasil melepas senja didalam hidupnya dan menyambut gelap malam dengan bintang yang begitu bersinar, bintang yang tak pernah kenal waktu untuk selalu menyinari hatinya, Bayu Pramadi.