DOKTER CINTA BOCAH JALANAN

Jam tangan yang kupakai masih menunjukkan pukul 16:30 WIB. Mobilku terhenti ketika salah satu dari sekian banyak  lampu lalu lintas dikota Bandung  berubah menjadi merah. Kali ini bukan ditemani dengan panas terik, tapi ditemani dengan rintikan hujan  yang menyegarkan. Sedari tadi kedua bola mataku memandangi sepasang anak laki-laki dan perempuan yang dengan cekatan menawarkan ojek payung kepada pengguna jalan yang berlalu lalang. Ku parkirkan mobilku di taman kota. Aku melangkah mendekati kedua bocah jalanan tersebut.
“Hai.” Bibirku menyunggingkan senyuman.
Mereka terdiam. Dengan penuh heran mereka menatapku. Kulihat harapan disorot mata mereka. Seketika hatiku terenyuh. Bocah yang masih terlalu kecil untuk menghadapi kerasnya hidup dijalanan. Namun aku sangat iri dengan mereka. mereka begitu kuat, dan kupikir mereka tak pernah mengeluh atas keadaan dan juga tak pernah menyerah. Berbeda dengan aku yang kadang tak pernah bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadaku dan keluargaku. Tanpa aku sadari aku menangis.
“kakak kenapa?” Tanya si gadis dengan polosnya.
Sambil menyeka air mataku aku menggelengkan kepala. Berusaha mengatur kembali emosiku yang sempat kacau.
“enggak apa-apa kok. Eh, kalian udah makan?” tanyaku dengan antusias.
“belum kak.” Kata si gadis.
“eh, kamu ini ga sopan banget deh!” Nada suara kakaknya meninggi.
“hahaha… ga apa-apa kok. Ayo ikut kakak” aku menggandeng si gadis. Kakaknya mengekori aku dibelakang.
Tak butuh waktu lama kita sampai di taman tempat mobilku terparkir. Kusuruh mereka masuk. Kupacu mobilku menuju restoran cepat saji terdekat. Kami segera masuk dan memberi  kode pelayan untuk segera menyiapkan hidangan untuk kami bertiga.
“Eh, kakak belum tahu nama kalian” kataku smabil meletakkan sendok “Nama kakak Zahra Pradipta. Kalau kalian?” lanjutku.
“Namaku Alvan kak” jawab si kakak dengan mulut penuh makanan.
“Kalau si cantik ini siapa?” kataku sambil menyentuh wajahnya. Kulihat pipinya memerah.
“aku Anisa kak.” Bibir mungilnya mengembangkan senyuman manis.
Setelah makanan habis, aku mengantarkan kedua bocah itu kerumah mereka. mereka sebenarnya tak punya rumah. Namun mereka biasa tidur dirumah singgah. Ku antar mereka sampai dalam. Dan betapa kagetnya aku. Kudapati sosok laki-laki gagah berdiri penuh cemas diruangan itu.
“kak Naufal…” teriak Anisa sambil lari memeluk laki-laki itu.
“Ya Allah… kalian dari mana saja? Jam berapa sekarang? Kalian ingat kan hari ini ada jadwal untuk belajar.” Laki-laki itu sedikit marah.
“oh maaf mas. Ini bukan salah mereka. tapi ini salah saya. Tadi mereka saya ajak jalan-jalan  dan makan dulu. Jadi tolong jangan salahkan mereka.” aku memohon.
“kamu siapa?” selidik laki-laki itu. Dahinya berkerut.
Tapi belum sempat aku membuka mulut, Alvan terlebih dahulu menyebutkan nama lengkapku. Aku tersenyum.
“saya Zahra. Rumah saya deket kok dari sini. Tadi ga sengaja ketemu mereka di perempatan jalan lagi hujan-hujan.”
“oh Zahra. Saya Muhamad Naufal Mahmud. Panggil saja saya Naufal. Jangan panjang-panjang.”
Kita berdua berjabat tangan. Namun tak lama setelah aku tahu tentang Alvan dan Anisa, aku pamitan pulang karena waktu semakin senja. Selama perjalanan pulang entah mengapa setan memonopoli seluruh otakku. Sosok Naufal membuatku kagum. Laki-laki berpendidikan yang dengan ikhlas menyisihkan sedikit waktunya untuk mendidik anak-anak kurang beruntung. Betapa beruntung kelak wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Pikiranku mulai keluar jalur.
Kujumpai suasana sepi dirumahku. Ayah dan ibu belum pulang dari rumah sakit tempat mereka bekerja. Ayahku seorang dokter spesialis bedah dan ibuku seorang perawat yang ada di rumahsakit tempat ayah bekerja. Menurut cerita mereka, dahulu ayah jatuh cinta pada ibu karena ibu orang yang cantik berjilbab,begitu baik, lemah lembut dan tulus. Persis dengan apa yang didambakan Ayah. Walaupun begitu ibu sulit didapatkan. Namun akhirnya dengan usaha dan kerja keras Ayah, ibu berhasil menjadi milik beliau. Dan aku sendiri, aku adalah seorang dokter muda. Seperti juga halnya ibuku, aku juga berjilbab. Aku anak tunggal. Maklum saja jika aku kalau aku betah menatap lama anak-anak , itu karena aku merindukan sosok adik.
Aku telah sampai dikamarku. Kurebahkan tubuhku yang sedikit lelah ini. Tak lama kemudian, suara mobil membuatku beranjak dari ranjang empuk dan aku keluar menyambut ayah dan ibu. Dengan antusiasnya ku ceritakan pertemuan antara aku dengan Alvan dan Anisa, juga Naufal.
“ayah,” kataku memulai pembicaraan
“Hem? Ada apa sayang? Wajahnya berpaling kearahku
“bagaimana kalau kita adopsi saja mereka.” pintaku hati-hati
“bagaimana ibu?” ayahku berpautan dengan ibu.
“sebenarnya ibu juga udah kangen punya anak-anak kecil. Mereka sangat menggemaskan. Tapi apa tidak terlalu banyak, sekaligus 3 begitu.” Kata ibuku
“ayah sebenarnya tidak keberatan Za, ibu dan ayah juga sudah berencana mengadopsi anak.” Ayahku menimpali
“Oh, Cuma 2 kok Bu. Naufal itu seseorang yang sering mengajari mereka beajar. Dia masih muda sih, kayaknya seumuran aku. Tapi dia tulus sekali.” Mataku bebinar-binar.
Sepertinya ayah menangkap hal sinyal dari mataku. Begitu aku selesai berbicara, beliau saling berpandangan dengan ibu seraya tersenyum. Aku memang tak bisa menutupi rasa kekagumanku terhadap Naufal. Dia sungguh luar biasa.
……………………………………………………………………………….
Pukul 12 siang, aku menyambangi rumah singgah dan berharap bertemu dengan Alvan dan Anisa. Aku tak sendirian, kuajak sahabat karibku Niken. kami membawakan mereka pakaian baru, buku dan makanan. Sesampainya disana, kami menemukan Alvan dan Anisa sedang belajar mengaji dengan Naufal. Aku tersenyum melihat mereka. bagiku itu adalah hal yang menentramkan jiwa. Namun aku dan Niken tak segera masuk. Setelah selesai mengaji kami segera mengetuk pintu.
kami memberikan bingkisan yang sengaja tadi kami beli untuk mereka. Sangat terlihat mereka senang sekali menerima pemberianku. Anisa dan Alvan segera membuka bingkisan yang kami bawa.T ak sengaja aku melihat Naufal yang dari tadi tak berbicara. Ia menatapku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku menjaga pandanganku agar tidak menimbulkan hawa nafsu diantara kita. Akhirnya waktu pula yang memberikan kita kesempatan untuk berbicara, hingga akhirnya aku tahu kalau Naufal juga seorang dokter muda. Aku juga tahu kalau ia anak seorang dosen di universitasku. ia tahu banyak hal, termasuk tentang agama. Aku semakin kagum dibuatnya, aku sendiri, walaupun keluargaku termasuk yang taat beragama, namun menurutku masih kalah dengan keluarga Naufal. Aku jadi bisa banyak belajar  dan mandapat pencerahan dari Naufal. Naufal termasuk laki-laki yang dingin, tapi senyumnya sangat manis. Entah mengapa aku semakin kagum saja dengan sosok laki-laki ini. Sering sekali aku  kerumah singgah untuk menemui Alvan dan Anisa. Aku juga sering dimintai Naufal menggantikan dia untuk mengajar di rumah singgah. Ya, aku semakin sering berhubungan dengan Naufal.
Suatu hari ketika aku kerumah singgah kudapati Naufal tengah bercengkrama asyik dengan anak-anak. Disampingnya ada seorang gadis. Langkahku memelan. Dadaku sesak melihat keakraban mereka.
Air mataku hampir saja berjatuhan, namun segera aku menyeka dan menarik napas. Rasa ini belum pernah aku rasakan selama aku mengenal sosok laki-laki. Memang selama ini aku belum pernah pacaran, tapi rasa yang kualami terhadap Naufal berbeda. Semacam rasa cemburu yang berhasil membuat hatiku teriris. Akhirnya aku sampai didepan pintu rumah singgah walau dengan perasaan yang berantakan. Aku tersenyum getir melihat keakraban yang terjadi antara Naufal dengan si gadis disbelahnya. Gadis itu tersenyum kepadaku. Naufal dan sigadis bertatapan seperti mengisyaratkan sesuatu.
“Oh ini ya yang namanya Kak Zahra. Ayo masuk. Alvan dan Anisa sering membicarakan kamu lho” Gadis itu menggandengku masuk. “ayo duduk” lanjutnya.
Aku tersenyum simpul. Mataku tak sengaja menatap mata Naufal yang juga menatapku. Aku langsung menunduk dan menuruti perintah si gadis. Mendadak aku terdiam.
“Namaku Rinda. Aku dan kak Naufal sering kesini untuk mengajar anak-anak jalanan dan yang rumahnya deket sini.” Ia mulai memperkenalkan diri.
“hai Rinda. Oh ya? wah, kamu hebat ya. masih muda tapi peduli sekali dengan lingkungan sekitar. Jarang-jarang lho ada gadis seperti kamu.” Kataku.
Rinda menjawab dengan senyuman. Sedangkan  Naufal bangkit dari tempat duduknya. Ia meninggalkan kami yang sedang mengajar anak-anak. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Aku dan Rinda melanjutkan aktivitas kami. Canda anak-anak sering memecahkan keheningan diantara kami. Sesekali kami tertawa. Kami bergantian membacakan dongeng atau bernyanyi. Tanpa aku sadari, aku menjadi akrab dengan Rinda, gadis yang berhasil membuatku cemburu.
……………………………………………………………………………………….
                Baru saja aku memeriksa pasien terakhirku sebelum Niken meneleponku. Ia ingin sekali bertemu denganku diperpustakaan kota yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempatku bekerja. Niken menatapku dengan penuh heran karena sedari tadi pipiku merona membicarakan Naufal. Sepertinya matanya menangkap sinyal-sinyal kekagumanku terhadap Naufal. Niken hanya mengangukkan kepala sambil sesekali menggodaku.
“Iya deh yang lagi fell in love. Melayang-layang  mulu tuh sampe lupa daratan.” Ujar Niken.
“Kamu malah udah punya. Aku telat kan ya?” balasku. Gelak tawa seketika pecah karena obrolan gila kita.
                Kini mobilku telah terpakir rapi berjejeran dengan mobil ayah dihalaman rumah. Aku segera masuk. Ayah dsn ibu telah duduk manis dimeja makan menyantap makan sing yang telah disediakan oleh pembantu. Ku jabat tangan ayah dan ibu. Aku sengaja menarik salah satu kursi yang berhadapan dengan ayah. Senyumku menyungging. Ayah segera bereaksi, dahinya berkerut. Bibirnya sedikit terangkat. Tapi ibu terdiam. Kedua bolamatanya mengikuti gerakanku.
“Kenapa Za?” Ayah berselidik.
Kepalaku menggeleng. Tapi bibirku masih sedikit terangkat. Tanganku sibuk mengambil makan siang.
“Zahra lagi jatuh cinta tuh Yah” ujar ibuku singkat. Kepalaku menoleh dengan mulut penuh makanan.
“iya Za?” mata ayahku melebar. Kepalaku menggeleng.
Sialnya, aku tak bisa merahasiakan desiran rasaku terhadap Naufal didepan orang tuaku, mereka terlalu memehami segala tingkahku. Akhirnya karena berhasil terpojokkan, aku mengungkapkan semua pada ayah dan ibu.
Hari berganti hari, siang, malam, matahari, bulan, dan bintang masih setia menemani terik dan gelapnya dunia. Semua makhluk dibumi juga masih menjalankan kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, begitu pula aku. aku sedikit melupakan kejadian waktu itu yang berhasil membuatnku terbakar cemburu. Walau terkadang rasa yang tak diundang itu muncul dan mengganggu semua konsentrasiku. Ya, bahkan kami sering bersama mengajar anak-anak. Mengobati ketika ada yang sakit, dan juga membelikan mereka buku atau baju baru. Semua kita lakukan dengan tulus ikhlas.
Tak pernah ada manusia yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Begitu pula aku. entah mengapa akhir-akhir ini aku berpikiran kalau aku akan kehilangan Naufal. Kemarin sore  ketika aku kerumah Naufal karena ada urusan dengannya, aku lihat Rinda dan keluarga Naufal tengah berbincang di teras rumah. Tanpa pikir panjang aku langsung memacu mobilku dan pulang. Hatiku kalut.  Dadaku sesak sekali, walaupun sempat aku tahan, tapi air mata ini tak bisa kubendung. Aku semakin yakin kalau Rinda dan Naufal pacaran. Bahkan Rinda telah dikenalkan dengan orang tua Naufal. Aku sempat menelepon Niken, airmataku bercucuran mengenang kedekatan Naufal dengan Rinda.
Sesampainya dirumah dan hingga kurasa aku bisa menguasai diriku lagi, aku menjelaskan keinginanku untuk segera mengadopsi Alvan dan Anisa kepada ayah dan ibu. Dan mereka setuju, besok mereka akan mengunjungi Alvan dan Anisa dirumah singgah. Ibu bahkan sudah membeli baju baru dan sedikit mainan untuk mereka. sekitar jam 12 siang, aku telah berada dirumah singgah bersama ayah dan ibu. Tampak Naufal dan Rinda sedang mengajar anak-anak degan serius. Setelah belajar selesai, kami masuk kerumah singgah dan bertemu dengan Alvan dan anisa. Wajah ibu paling berseri-seri. Mungkin beliau kangen mengurus anak-anak seumuran mereka. dan ayah tersenyum. Senyum yang sering aku lihat ketika dulu aku kecil. Naufal dan Rinda menyambut kami dengan rasa heran. Bahkan nampak sekali dahi Naufal ada garis-garis kecil. Ketika mendengar suaraku, Anisa datang dari dalam lalu memelukku erat. Entah kenal darimana, ayah dan Naufal tiba-tiba telah saling akrab begitu saja. Tak ada rasa canggung sedikitpun. Bahkan dengan ibukupun Naufal seperti sudah kenal akrab. Kami lalu duduk di ruangan rumah singgah. Ibu berkenalan dengan Alvan dan Anisa, sepertinya ibu menyukai kakak beradik itu.
“Za, ini yang namanya Naufal?” ayahku bertanya. Senyumnya mengembang seperti menggodaku.
“Eh, iya yah” kataku. “Kok ayah udah akrab begitu ya?” lanjutku heran.
“Lha gimana gak akrab. Ini sih dokter muda dan cerdas dirumah sakit ayah Za.” Ayahku berseri-seri.
Naufal tidak berbicara apapun. Ia hanya membalas pujian ayah dengan senyuman manis yang membuat pertahanan hatiku melemah. Setelah sebentar bercengkrama dengan Alvan dan Anisa, ibu bergabung dengan kami. Ia bertnya keadaan kedua bocah itu kepada Naufal dan Rinda. Ayah dan ibu juga mengungkapkan niatnya kepada Naufal untuk mengadopsi mereka berdua. Hari itu juga Alvan dan ANisa diboyong kerumah kami. Mereka sepertinya senang sekali menempati rumah baru. Kamar mereka terpisah. Kamar Alvan warna-warni dengan wallpaper gambar mobil seperti film cars. Sedangkan kamar Anisa berwarna dominan pink dengan banyak sekali boneka dan wallpaper bunga-bunga manis. Hari itu, aku sedih sekaligus senang. Senang karena aku berhasil mengubah hidup Alvan dan Anisa. Namun aku juga sedih karena aku akan jarang bertemu Naufal. Meskipun aku punya nomor hpnya, bahkan untuk menghubunginya aku harus berpikir berkali-kali. Aku tidak ingin dikatakan sebagai pengrusak hubungan orang.
……………………………………………………………………….
                Suatu hari, ketika aku sedang berjalan dilorong rak bagian makanan ringan di supermarket, aku bertemu Rinda. Ia senang sekali sampai memelukku berkali-kali. Akupun tak bisa menyembunyikan rasa kangenku terhdapnya. Dia sendiri, tidak ditemani oleh Naufal atau keluarga dari Naufal. Tanpa aku duga, ia malah bilang kalau Naufal ingin bertemu denganku lusa, ia tak menjelaskan apapun, tapi ia malah berlalu. Aku mematung cukup lama, otakku menerka-nerka alasan Naufal ingin bertemu denganku. Tepat dua hari setelah pertemuan mendadak ku dengan Rinda di Supermarket, seharusnya aku bertemu dengan Naufal hari ini. namun aku enggan keluar rumah. Kulirik HPku, tak ada SMS atau telepon masuk dari Rinda atau Naufal. Semua begitu abstrak, hingga kupikir mungkin ini adalah cara mereka untuk mengabarkan hubungan mereka kepadaku.
                Esoknya ketika aku selesai menikmati sarapan dengan ayah, ibu Anisa dan Alvan, tiba-tiba pembantuku menghampiri dan menyodoriku sebuah surat berwarna merah dengan hiasan bunga tulip warna-warni. Manis sekali. Kini semua mata tertuju pdaku seolah bertanya penulis surat itu. Aku membisu, kepalaku bergerak kekanan dan kekiri. Aku bergegas kekamar dan dengan segera kubuka surat itu. Ku baca dengan seksama rangkaian kata demi kata indah yang tercipta.
Dear Zahra.
Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hai, apa kabar? Lama ya kita tak bertemu. Kemarin sebenarnya ada yang ingin kusampaikan. Tapi lama ku menanti, tak ku jumpai kehadiranmu. Aku juga tak sengaja bertemu dengan Niken, sahabatmu. Ia banyak cerita tentang kamu, termasuk rasa cemburumu terhadap Rinda. Sebenarnya ini salahku, aku tak sempat mengatakan bahwa Rinda adalah adik kesayanganku. 
Zahra, sebenarnya kau adalah bidadari hatiku, entah sejak kapan hatiku terpaku pada sosokmu yang anggun itu. Aku tak bisa menolak pesonamu. Sungguh aku takut jika ini adalah nafsu syetan belaka. Tapi semakin aku ingin melupakanmu, semakin bayanganmu menghanytui setiap langkahku. Mungkin kamu akan menganggap aku mengada-ada. Namun ini kenyataannya. Berulang kali aku bertahajud memohon petunjuk-Nya, wajahmu yang selalu hadir disetiap mimpiku. Mungkinkan ini jawaban atas doaku? Aku tak benar-benar tahu. Yang hanya aku tahu, aku sangat mencintaimu.
Oh ya, mungkin ketika kamu membaca suratku ini, aku telah ada dipesawat. Aku akan melanjutkan sekolah dokterku diluar negeri. Aku mendapatkan beasiswa untuk menjadi dokter spesialis mata. Berat memang jika harus meninggalkanmu. Terlebih jika nanti aku merindukanmu. Tapi aku yakin, jika kau juga benar-benar mencintaiku, kau akan menunggu aku kembali.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Naufal

                Aku membisu. Air mata tumpah seketika setelah membaca surat dari Naufal. Ingin sekali aku memaki diriku sendiri yang terbutakan oleh rasa cemburu. Aku menyambar HP, mencari nama Rinda di kontakku. Aku meneleponnya. Tangisku masih menjadi. Kuungkapkan semua perasaanku yang campur aduk kepada Rinda. Rinda mencoba menenangkanku, tetapi sia-sia. Hatiku tetap membuncah tak karuan. Dan kini, walau terpisah jarak ribuan mil, aku dan Naufal selalu berkomunikasi. Aku berhasil menghubunginya walau sempat aku bersusah payah. Dia telah berjanji untuk segera pulang, melepas semua rindunya kepadaku, dan mengenalkan aku kepada oang tuanya secara resmi. Sebagai pacarnya.