Home » 2014
Penggemar Rahasia

Sachi keluar dari kamar dengan mata yang memerah dan sedikit bengkak. Tangannya membawa tissue yang telah basah. Ia menangis haru karena ia baru saja selesai menonton film Thailand yang berjudul Sunset At Chaophraya. Ia benar-benar terbawa suasana film itu. Disamping alur cerita film yang mengharukan, Sachi adalah sosok gadis yang sangat perasa, maka tak mengherankan kalau dia cepat mengeluarkan air mata bila menonton film dengan genre yang sama. Ia tertunduk malu ketika ia mendapati Dony, kakak laki-laki yang lebih tua 2 tahun darinya dan mamanya sedang derdua di ruang makan. “Eh, kenapa tuh?” kakaknya mulai menginterogasi, tangannya mengarah pada Sachi “Lho dek, kenapa? Habis nangis?” mamanya ikut-ikutan “habis diputusin pacar tuh Ma” kakaknya mulai ngaco. “Ah abang, emangnya Sachi kayak abang yang gonta ganti pacar?” Sachi manyun. “lha terus?” Tanya mamanya “habis nonton film ma” Sachi tersenyum. Ia tak melanjutkkan kata-katanya, lalu ia duduk disamping mamanya. “alah, dasar cengeng. Nonton film aja pake acara nangis segala. Kek drama queen!” hardik kakaknya. “biarin, dari pada abang ga punya perasaan” kata Sachi mengejek abangnya. Ia berdiri untuk masuk ke kamarnya. Dony adalah kakak semata wayang Sachi yang kini kuliah di Jakarta dan mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sedari kecil ia memang ingin menjadi diplomat. Lain lagi urusannya dengan Sachi, meskipun ia termasuk anak yang cerdas, tapi ia belum mempunyai cita-cita yang tetap. Selalu saja ia bergonta-ganti cita-cita ketika mama atau papanya bertanya. Kadang tingkah laku Sachi ini membuat orag tuanya senewen tak karuan. Sachi benar-benar sedih karena ia mendapat nilai kimia hanya 49. Tak genap 50, padahal ia sangat yakin kalau ia bisa mendapat lebih dari itu. Ternyata ia tak sendirian, teman-temannya juga banyak yang mendapat nilai separah itu. Malah teman sebangkunya, Ririn mendapat lebih parah dari dia, 8 ketawa alias 3. Benar-benar bikin kepala mendadak pusing jika mereka teringat orang tua mereka. sachi menghela napas panjang. Jelas sekali tergambar kekecewaan diwajahnya. Ia hampir saja menangis kalau tidak ditenangkan oleh Ririn. Sesampainya dirumah, Sachi rasanya enggan keluar kamar untuk bertatap muka dengan orang tuanya. Bahkan saat makan malam saja ia terlihat sangat malas, padahal biasanya kalau bertemu dengan makanan keriting berwarna coklat karena dimandikan dengan kecap, ia sangat antusias. Tapi, rasanya semua hambar. Orang tua dan kakaknya heran setengah mati melihat tingkah polah Sachi yang sangat aneh, apalagi tidak biasanya Sachi murung seperti ini. “nah kan ma, Habis diputus tuh sama pacar.” Sahut kakaknya asal “abang! Siapa sih yang punya pacar.” Bibirnya agak maju seperti bebek “kenapa? Kok ga biasanya seperti ini” ucap mamanya halus. “iya nih.” Potong papanya.”biasanya kalau lihat mie paling antusias, sekarang kok diem sih? Lanjutnya “ga kenapa-kenapa kok. Sachi lagi pusing.” Jawabnya singkat. Esok harinya, Sachi dan Ririn benar-benar dibuat jengkel dengan materi sejarah yang sangat padat dengan bacaan dan syarat dengan tanggal bulan dan tahun. Entah mengapa mereka malas sekali dengan pelajaran tersebut. Ditambah lagi pak Butet, guru mereka yang asli Batak. Beliau termasuk guru killer dan sangat menyeramkan membuat mereka tambah ogah-ogahan mengikuti pelajaran sejarah. Terkadang kejengkelan mereka bertambah ketika mereka harus menerima kenyataan kalau mereka harus kehilangan nilai hanya gara-gara salah menuliskan nama belakang penemu mesin uap dengan “wati”. Saat berganti pelajaran, sachi kaget ketika ia menemukan lembaran berwarna merah muda dengan hiasan bunga warna warni mirip surat tersisip di buku paket biologi miliknya. Dengan segera ia membuka lembaran misterius yang penuh dengan tulisan rapi itu. Kelopak matanya melebar, jantungnya mendadak berdetak sangat cepat. Ia bahkan tak percaya ia punya penggemar rahasia. Dibacanya berkali-kali isi surat itu. Sebentar-sebentar ia tersenyum geli, terkadang bibirnya sedikit membuka karena tak percaya. Pikirannya mulai keluar jalur. Ia bukan senang karena ia punya penggemar rahasia, malahan ia berpikir kalau ada orang iseng yang sengaja menyisipkan kertas manis itu dibukunya. Ketika telah dirumah, ia tak juga kunjung keluar kamar untuk makan malam. Ia terus saja memandangi surat misterius itu sambil duduk dimeja belajarnya. Tiba-tiba saja suara teriakan yang amat keras mengagetkan gadis polos itu. “mamaaaaaaaaa… Sachi beneran punya pacar!!!” kakaknya tertawa Sachi benar-benar dibuat jengkel oleh abangnya. Dia bahkan tak tahu bagaimana bisa abangnya itu bisa masuk kamar Sachi tanpa pernah Sachi mendengar langkah kaki kakaknya itu. “sialan! “ Potong sachi “siapa yang punya pacar? Aku aja ga tau siapa yang ngasih” lanjutnya dengan geram “ah…. Masa sih? Kamu pikir aku percaya?” kata abangnya yang merebut surat dari genggaman sachi. Surat berwarna merah muda itu akhirnya sampai dimeja makan dan telah dibaca oleh papa dan mama Sachi bergantian. Papa dan mamanya tertawa geli saat membaca surat itu, berbeda dengan sachi yang terlihat agak malas dengan surat yang menurutnya menghancurkan reputasinya sebagai cewek yang anti dengan cowok. Adegan memalukan dimeja makan rumah sachi berganti dengan adegan baru di kelas esok harinya. Lagi-lagi Sachi kaget karena ia mendapati surat dengan warna yang sama tergletak menganggur di laci mejanya. Diambilnya surat itu, lalu segera ia baca. ia tak habis fikir dengan penulis surat yang menggunakan kata-kata super romantis yang sukses membuat Sachi sedikit agak terbuai kemudian tersenyum simpul. Kini surat itu telah berpindah tangan. Ririn yang baru saja datang dengan sangat cepat merebut surat itu lalu membacanya dengan keras didepan kelas. Sachi gelagapan tak karuan dan akhirnya mendelik malu. Dengan segera ia menyemprot Ririn yang pasang tampang tak berdosa. Sedangkan Ririn, ia hanya melengos saja. Kini Sachi dan Ririn menyusun rencana untuk mengungkap pengirim surat misterius itu. Sampai-sampai mereka rela berangkat pagi dan pulang paling sore hanya untuk menjawab penasaran mereka pada surat itu. Benar-benar sukses membuat Sachi sangat bĂȘte. Sebenarnya Sachi tak mempermasalahkan siapa penulis dan pengirimnya kalau saja waktu itu Ririn tidak membaca surat itu secara nyaring. Gara-gara ulah Ririn yang ga karuan itu, kini ia mau tidak mau menemani sachi mencari tau, karena sachi mulai risih dengan ledekan teman-temannya yang menyangkut pautkan ia dengan surat itu. Usaha mereka tak kunjung membuahkan hasil yang signifikan, bahkan beberapa hari ini, mereka nyaris tak mendapatkan info apa-apa yang nyaris membuat mereka menyerah. Namun, semangat sachi seperti tak pernah habis. Ia terus saja sibuk mencari info sana sini. Otaknya yang memang cerdas tiada henti menyusun rencana demi rencana yang membuat Ririn bingung walau diterangkan berkali-kali. Kini, tumpukan surat cinta Sachi semakin meninggi. Ia mulai eneg membaca setiap kata-kata romantic yang dibuat pengarangnya, sampe kadang Sachi tak bisa menahan tawa. Sachi memang sedikit berbeda dengan gadis lain, ia sangat tidak suka dengan kata-kata romantis. Aneh memang, namun itulah Sachi. Sachi baru saja hendak kekantin. Perutnya sudah mulai berdemo karena dari tadi siang belum juga diisi olehnya. Sekolah sudah sangat sepi, hanya beberapa anak-anak yang pulang dari ekskul saja, termasuk ia yang berlalu lalang meninggalkan sekolah. Kedua bola matanya mulai membesar dan mulutnya sedikit terbuka ketika ia lewat kelasnya. Bahkan rasa laparnya tak ia hiraukan lagi. Ia kaget setengah mati melihat seseorang berbadan besar berisi, dengan potongan rambut cepak sedang sibuk meletakkan sesuatu yang mirip dengan surat-surat Sachi. Yozha! Ia terus saja mengamati gerak-gerik laki-laki itu. Entah mengapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak beraturan. Kepalanya tak mau berhenti bergerak ke kanan dan kekiri. Sedangkan Yozha seolah tak sadar dengan kehadiran sachi dibelakangnya. ia terus saja melancarkan aksinya sebagai penggemar rahasia Sachi. Sachi dengan gesit menghindar dari pintu ketika Yoza memalingkan tubuhnya untuk keluar. Sachi mempercepat langkahnya menuju koridor sekolah hingga akhirnya ia telah sampai di depan gerbang. Tak lama setelahnya, kakaknya muncul dengan mobil Avanzanya. Lamunannya soal Yozha buyar ketika klakson mengagetkannya. Mobil yang disetir abangnya terus melaju agak kencang. Sesekali abangnya meledek Sachi karena kekonyolannya tadi. Sachi hanya diam tak menanggapi gurauan abangnya. Bahkan ia asyik dengan buku pengetahuan yang baru Ia beli kemarin. Sesampainya dirumah, abangnya tak berhenti ketawa. Ia terus saja meledek Sachi yang sudah terlihat manyun tak karuan. Saking kerasnya suara mereka, mamanya sampai keluar hanya untuk memeriksa apakah keadaan 2 anaknya itu baik-baik saja atau tidak. Sachi dan abangnya memang konyol, mereka tak pernah melewatkan hari tanpa bertengkar, maklumlah, abangnya memang jail dan Sachi sendiri tak mau mengalah. Otak Sachi tak mau berhenti memikirkan kejadian yang terjadi tadi sore. Belajarpun ia tak konsentrasi, malah ia memainkan pensil yang ada di tangannya sambil teringat Yozha. Terkadang muncul lipatan-lipatan halus dikeningnya, sesekali bibirnya digigitinya persis kalau ia lagi bingung atau nervous. Ia benar-benar tak habis pikir dengan ulah Yozha selama ini. Memang sih ia tanpa sengaja pernah memergoki Yoza memandanginya, pernah juga Yozha melempar senyuman manis ketika bertemu di kantin, atau saat Sachi lewat bangku cowok itu. Yoza juga sering mengajak Sachi ngobrol atau menyelesaikan tugas bersama. Tapi tak pernah sekalipun Sachi berpikiran yang aneh-aneh tentang tatapan dan senyuman itu. Menurutnya hal itu wajar karena mereka adalah teman sekelas. Esok paginya saat cewek energik dan cerdas itu masuk kelas, Yozha, Ririn dan sebagian teman-teman mereka telah ada di ruangan kelas meskipun masih agak pagi. Sachi sengaja memandang Yoza yang duduk manis di bangkunya , pandangannya wajar sehingga Yozha pun membalas pandangan itu. Sachi berlalu menuju bangkunya. Sachi memeriksa laci bangkunya, terdapat sepucuk surat berwarna kombinasi antara hijau, pink dan ungu dengan motif yang sangat ceria. Sachi sebenarnya suka dengan warna dan motifnya, sehingga ia tanpa sadar tersenyum saat melihat surat itu. ‘kapan kita melakukan spionase lagi?” “gak perlu. Udah, biarin aja. Pengen gue kumpulin ini surat, terus gue bakar deh!” Sachi agak berteriak, matanya melirik kearah Yoza. …………………………………………………………………………………………………….. Di kamarnya, Sachi melempar tas berwarna krem ke ranjangnya yang empuk. Seragamnya belum ia ganti, ia langsung duduk memandangi jendela yang langsung menghadap ke taman rumahnya. Bola matanya menerawang jauh keluar tanpa tujuan jelas. Baru kali ini ia benar-benar dibuat sebal dan heran dengan seorang cowok yang menyukainya secara dian-diam. Sesekali matanya menyipit dengan helaan napas panjang yang teratur. Ketukan pintu yang agak keras memaksa menghentikan lamunan Sachi. Ia segera membuka pintu sebelum suara ketukan itu semakin keras dengan liukan suara lengking khas mamanya yang sering ngomel-ngomel kalau Sachi tak segera makan siang. Dugaan sachi tak meleset. Benar saja, mamanya telah berdiri dengan anggunnya di balik pintu yang baru saja ia buka. Sachi terpaksa harus mendengar omelan mamanya yang lumayan panjang karena ia belum berganti baju, ditambah lagi tak kunjung ke ruang makan untuk makan siang. Mama Sachi paling rewel kalau anak perempuannya itu tak segera makan. Maklumlah, sachi sudah terjangkit maagh. Semuanya telah ada diruang makan. Papa, mama Dony dan Sachi menikmati hidangan super special hasil karya mamanya. Tak ada suara manusia. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu beradu diatas piring. Papanya membuka pembicaraan. Dony dan mamanya terdengar saling bersahutan, berbeda dengan Sachi yang terlihat sangat menikmati makanan itu. Tak sedikitpun ia ingin ikut membahas masalah yang sedang dibicarakan oleh papa, mama dan abangnya itu. Sachi hampir tersedak ketika papanya membahas surat yang setiap hari dibawa Sachi sebagai oleh-oleh dari sekolahnya. Ia segera minum, abangnya terkekeh tak karuan. Sesekali lirikan sinis menghampiri abangnya. Tapi Sachi diam. Tak pernah merespond pertanyaan papanya soal surat itu. …………………………………………………………………………………………………. Yozha segera menghentikan langkah Sachi ketika mereka berjumpa di gerbang sekolah. Mereka kini jalan berdua menuju kelas. Selama perjalanan Sachi membisu, namun mendengarkan semua perkataan yang terus terucap dari mulut Yozha. Sebenarnya Sachi ingin bertanya tentang surat itu kepada Yozha, tapi dari lubuk hatinya, ia takut, karena mungkin saja bukan Yozha yang membuat surat itu. Bisa saja ia hanya dimintai bantuan oleh penulis surat itu. Tiba-tiba hatinya bergemuruh. Dengan hampir bersamaan, mulut mereka mengeluarkan kata-kata. Setelah berdebat beberapa saat, Sachi dapat giliran pertama untuk berbicara. “aku pernah memergoki kamu meletakkan surat cinta kedalam laci mejaku.” Dengan agak ketus ia berkata ada Yozha. Matanya lurus kedepan. “maaf, pasti kamu salah paham. Sebenarnya bukan aku yang ngasih surat itu.” Yoza menjawab dengan santai “sudah kukira.” “lalu? Apa masalahnya?” “kamu disuruh seseorang?” langkah Sachi terhenti diikuti Yoza. “aaah, sudahlah. Lupakan saja. Tak perlu kau jawab!” ia meningggalkan Yoza begitu saja dihalaman sekolah. Setelah kejadian itu, Sachi menjadi agak pendiam dan enggan lagi menanggapi surat-surat yang semakin gila beredar di laci meja Sachi. Walaupun setiap hari ada, dan setiap hari pula Sachi membacanya, tetapi ia langsung merobek surat itu dan melempar seenaknya ke tempat sampah dekat pintu. Sachi tak kuat lagi menahan semua ejekan teman-temannya. Dengan ketetapan hati, ia akan menyelidiki siapa pengirim surat itu hari ini juga, ia bertekad untuk mengadili pelakunya dan membuat pelakunya malu atas apa yang ia lakukan selama ini. Setelah bel pulang, Sachi dan Ririn tetap melekat pada kursi mereka. setelah semua siswa keluar dari kelasnya, mereka baru beranjak untuk menyisir seluruh area sekolah. Lama sekali mereka mengelilingi setiap sudut sekolah, tiba-tiba langkah Sachi terhenti. Matanya melebar seolah ingin meloncat keluar. Mulutnya sedikit menganga. Ia segera memberi aba-aba kepada Ririn untuk berdiri di belakang Sachi. Setelah sekian lama mengamati seseorang itu, sachi yakin ia mengenal baik orang misterius itu. Sachi sangat mengenalnya, cara orang itu berjalan, tubuhnya, dan semua tingkah lakunya. Sachi mengenalnya! Jantungnya mendadak berdetak sangat kencang. Tubuhnya panas dingin, lalu ia memberanikan diri menghampiri orang itu. Ia menyentuh pundak orang yang kini berada di depannya. Dan, dengan segera orang misterius itu menoleh dengan senyuman simpul dibibir mungilnya yang berhasil membuat hati Sachi mendesir hebat. “Sachi.” Kata orang itu terbata “apa yang kau lakukan di kelasku?” Sachi basa-basi. “itu surat siapa? Oh, kamu naksir teman sekelasku ya? lanjutnya dengan sedikit senyuman. “i….iya, lebih tepatnya aku naksir kamu.” Wajah orang itu tertunduk. “Helmi….” Bentak Sachi. Ia menarik napas panjang. “kenapa harus dengan cara ini sih? Kamu ga tau kan gimana ejekan teman-temanku? Aku risih, aku sering ga konsen. Kamu itu kenapa sih? Jangan kayak anak kecil gitu deh.!” Nada suara Sachi meninggi. “maaf, tapi aku ga tau harus gimana. Soalnya kan kamu udah terkenal kalau kamu ga suka sama cowok manapun di sekolah ini. bahkan sempet ada desas-desus kalau kamu suka sama sejenis. Padahal yang suka kamu banyak.” Dengan polosnya Helmi menjawab. “ Sejenis apa? Jangan ngasal deh. Kalian salah.” Jawab Sachi sebal. “jadi?” “jadi apa?” Ia duduk. Bola matanya memandang Helmi lekat. “apa jawabanmu? Aku mencintaimu. Kamu ga mau jadi pacarku? Aku lumayan ganteng lho, ga kalah deh sama Orlando Bloom.” Helmi berkelakar. Sachi tak bersuara, mulutnya menganga. Buku paket biologi yang ada di tangannya ia arahkan kepundak Helmi 3 manusia yang sedang berdiri diantara kursi kosong itu terdiam. Mereka tertawa penuh bahagia karena tuduhan teman-teman kalau Sachi tidak suka seorang cowok terpatahkan karena Helmi berhasil membuat hati Sachi terbuka. Jadi selama ini Sachi memendam perasaannya kepada Helmi karena Sachi mengira Helmi sudah punya pacar. Tetapi Sachi tidak menjadi pacar Helmi. Mereka berjanji akan melanjutkan sekolah mereka terlebih dahulu.

Sahabat Sejati

Bau khas tanah basah karena gerimis merambah indera penciuman Yuna. Tubuhnya mematung memandangi sosok laki-laki yang sedari tadi duduk di depan ruang perpustakaan. Yuna beruntung mendapatkan kelas yang langsung berhadapan dengan perpustakaan. Ia bisa kapan saja keluar masuk perpustakaan. Dan yang paling penting, ia bisa sering bertemu dengan Arjuna, pujaan hatinya yang ia sukai dari kelas 1 SMA. Yuna tak menghiraukan setiap langkah kaki yang lalu lalang, termasuk langkah kaki Sarah, sahabatnya dari SMP. Sarah menggerak-gerakkan tangannya didepan mata Yuna yang terus menatap lurus kedepan. Yuna tak bergeming. Entah karena memang saking sebalnya, akhirnya Sarah mencubit lengan Yuna. “Aduhh” rintih Yuna “Gila, sakit tau.” “Hehehe, masuk kelas yuk” kata Sarah santai Mereka lalu masuk kelas dan memperhatikan setiap pelajaran yang diberikan oleh guru dengan seksama. Mereka tak ingin menjadi orang yang merugi dimasa depan karena menyepelekan pendidikan. ……… Malam itu, Yuna terus memandangi foto Arjuna yang sedang berpose di puncak Semeru yang ia dapatkan dari Sarah sambil sesekali menyeruput jus jambu kesukaannya. Ia tak habis pikir dengan sarah yang bisa dengan mudah mendapatkan foto Arjuna, padahal ia sama sekali tak pernah melihat Sarah dan Arjuna ngobrol. “Ya, begitu. Liat terus foto itu kalo kamu lagi kangen. Dan bilang, senyumnya gak usah dimanis-manisin. Gak bakalan manis juga.” Cerocos Sarah. “Woy, kok kamu sih yang sewot gitu.” Tanya Yuna sambil menyelipkan foto itu dibukunya. “Habisnya aku sebel sama kamu. Udah tau dia gak pernah ngerespon perasaanmu, tapi tetep kamu suka dia. Gak capek buk?” Sarah tergelak. Yuna membisu. Ia teringat dengan Aaron, cowok yang menyukainya dan sudah menembaknya lima kali tetapi ia tolak. Lamunan Yuna buyar ketika ia mendengar suara berisik dari ujung kamarnya. Tiba-tiba pintu terbuka, dan muncul wajah yang sangat ia kenal. “ada apa Bang Rio?” Tanya Yuna pada Rio, abang semata wayangnya. “disuruh mama keruang makan.” Kata Rio sambil menutup pintu, Yuna dan Sarah mengekori Rio. ….. Malam begitu indah. Dari jendela kamar Yuna memandang kearah taman didepan kamarnya. Ia merenung tentang perasaannya kepada Arjuna yang tak pernah terbalas walau dia telah berusaha keras mengambil hatinya. Lama sekali hingga pipinya basah oleh air mata. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera bangkit dari tempat duduknya dan mematikan lampu kamarnya untuk tidur. Pagi pagi sekali langkah kaki Yuna memasuki gerbang sekolah, secepat mungkin ia ingin segera sampai dikelas untuk mengabari Sarah kalau ia ingin melupakan Arjuna. Bola matanya seolah ingin keluar ketika ia melewati laboratorium bahasa. Ia melihat pemandangan yang menyayat hati. Tubuhnya gemetar. Ia hampir saja pingsan. “Sarah. Kamu…” pekik Yuna. Sepasang insan itu terkejut. Mereka menghentikan obrolan dan segera berdiri. Sama seperti Yuna, Sarahpun terkejut, matanya agak basah. Arjuna mengusap wajah dan rambut hitamnya. “Yuna. Aku… aku..” Sarah kehilangan kata-kata. “Oke. Seharusnya aku tidak lewat sini tadi” Yuna membalikan badan. Napasnya sangat sesak sampai langkahnyapun sempoyongan. “Yuna, tunggu, aku bisa jelaskan semuanya.” Sarah agak berlari, tapi tangan Arjuna segera menarik tubuhnya, “Percuma. Dalam situasi hatinya yang enggak tenang dia gak bakalan bisa terima semua penjelasan kita” Kata Arjuna bijak. Sarah terdiam, jari-jarinya sibuk mengusap air mata. Napasnya tak beraturan. Bola matanya memandangi Yuna yang perlahan tapi pasti menghilang. Yuna terus terisak. Perasaannya yang kacau membawa langkahnya jauh dari tempat itu. Diperpustakaan ia duduk menenangkan gejolak dihatinya sambil mengatur nafas. Ia teringat dengan Aaron yang selama ini begitu peduli dengan dia dibanding Sarah dan Arjuna tapi ia malah sia-siakan. Ia juga masih sangat kecewa dengan tingkah Sarah yang selama ini ia anggap sebagai sahabat paling baik sedunia. Setelah kejadian itu, ia tak pernah lagi berbica dan berurusan dengan Sarah. Terkadang ia sangat muak bersandiara didepan teman-teman dengan bermanis-manis ria dengan gadis itu. Lima tahun berlalu. Kini Yuna dan sarah telah menjalani kehidupan mereka sendiri sendiri sebagai seorang mahasiswa. Hari ini adalah hari dimana Sarah diwisuda, senyum selalu tersungging dibibirnya. Ia masih berharap Yuna datang diacara wisudanya. Kedua matanya yang dihiasi kaca mata menangkap sosok berkulit putih, anggun dan tinggi semampai yang dibalut dengan gaun warna baby pink. Jantungnya berdetak tak beraturan ketika sosok itu semakin mendekat. Sarah menganga tak percaya Yuna akan datang dihari bahagianya itu. Yuna membuka kedua lengannya yang segera disambut dengan pelukan rindu Sarah. Rindu yang selama ini mereka tahan akhirnya luruh bersama dengan air mata bahagia mereka. “Cieee… Wisuda nih ye.” Kata Yuna. Sarah tak bersuara. Air matanya masih berjatuhan. “Kok nangis? Harusnya seneng dong, udah wisuda.” Lanjut Yuna. Sarah mengatur napasnya. Mulutnya masih tak mampu mengeluarkan kata-kata. Agak lama, hingga akhirnya ia bersuara. “aku bahagia.sangat bahagia” kata Sarah “Aku pikir kamu gak akan datang kewisuda aku. Maaf Na, aku sempat mengecewakanmu. Aku memang teman yang jahat. Mungkin kamu telah mengutukku waktu itu. Aku gak apa-apa. Aku memang pantes dapat itu dari kamu.” Lanjut Sarah panjang lebar. Ia masih terisak “Hentikan!” perintah Yuna. “Aku memang sempat kecewa. Tapi aku udah dengar penjelasan dari Arjuna. Kemarin aku bertemu dia di kampus. Aku baru tahu loh kalau aku sekampus dengan dia. Sebenarnya aku yang salah. Bener gak sih kalau kamu lebih dulu suka sama Arjuna dari pada aku? “ Yuna menatap Sarah. sorot mata Yuna seolah meminta penjelasan. “Kamu lebih mencintai dia Na.” Kepala Sarah menunduk. “ Kenapa sih kamu enggak bilang dari dulu kalau kalian saling cinta? Kalau sikonnya begitu kan akan lebih baik kalau kamu dan Arjuna bersatu.” Yuna tersenyum “Tapi kamu sangat mencintai dia.” “Bukan, setelah aku pikir-pikir aku tidak mencintai dia. Ada orang yang selama ini lebih mencintai aku, dan aku juga mencintai dia. Aku memang bodoh sudah menolaknya dulu. Tapi sekarang aku gak akan membuat kesalahan lagi dengan menyia-nyiakan dia.” Suara Yuna memelan “Aaron?” Sarah mencoba menerka. Yuna menganguk sambil tersenyum. “Oke, sekarang lihat siapa yang datang” kata Yuna sambil mengkode seseorang untuk segera muncul dihadapan mereka. Pupil mata Sarah melebar. Jantungnya bergemuruh ketika seorang laki-laki yang sangat ia kenal ada dihadapan mereka. “Lakukan sekarang Jun. Jangan lama-lama” perintah Yuna pada Laki-laki itu. Arjuna segera berlutut dihadapan Sarah. Mulutnya mengeluarkan kata-kata yang begitu menggetarkan jiwa. Semua mata terpukau melihat pengakuan perasaan seorang laki-laki pada perempuan yang ia cintai. Sarah menangis tapi senyum mengembang dibibirnya. Sarah masih tak percaya Arjuna masih setia pada dirinya. Tepuk tangan riuh ketika Sarah mengangukan kepala menerima ungkapan perasaan Arjuna. “Resikonya kalau kita telah mencintai seseorang adalah kita harus siap kehilangan seseorang itu, kapanpun”—theSunrise

Melepas Senja

MELEPAS SENJA Terik mentari membakar tubuh seorang gadis manis. Ia mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke rumah. Ia ingin segera berlindung di tempat nyaman itu. Pintu kamarny ia buka lalu ia merebahkan tubuhnya yang semampai diatas kasur empuk. Tak terasa ia terlelap. Matanya terbuka ketika telepon genggamnya berbunyi. “Enolaaaa… Enola Sarassati! Astaga. Berapa kali aku meneleponmu?” Teriak suara dari sebrang “Ehehe, maaf. Habisnya aku capek sekali tadi habis nganterin Andre beli sesuatu.” Enola menjawab santai “Eh? Andre? Beli apaan dia?” “Enggak apa-apa kok.” Jawab Enola, matanya masih sedikit terkatup “Errr.. kapan pertemuan untuk ngebahas planning kita kepuncak? “aku lupa Alena, maaf.” Enola masih malas menjawab telepon. “Dasar, planning kita aja dilupain, masa kamu gak bisa ngelupain Sena sih.” Enola menutup telepon tanpa permisi. Ia tertegun. Memori otaknya kembali membuka ingatan tentang Sasena, laki-laki yang telah menemani hidupnya selama dua tahun terakhir, dan kini mereka telah berpisah karena tingkah Sasena yang bermain serong dengan gadis lain. Kebahagiaan yang selama ini mereka lalui terenggut sudah bersama sakit hati Enola pada laki-laki itu. …. Empat bulan berlalu. Enola telah melupakan Sasena sedikit demi sedikit. Tetapi kali ini, bersamaan dengan mobil yang melewati cafĂ© favorit mereka, ingatan itu masuk kembali ke otak Enola dengan liciknya, membuat Enola sulit bernapas. Tubuhnya mendadak panas, padahal ia berada di mobil ber AC. Air mata membasahi pipinya untuk kesekian kalinya. Entah mengapa ia menjadi amat rapuh jika mengingat segala tentang Sasena. Mobil yang Enola kendarai melaju meninggalkan tempat kenangannya bersama Sasena. Ia menuju toko buku untuk membeli beberapa keperluan tulisnya yang mulai habis. Saat hendak masuk, tubuhnya menyenggol seorang wanita. Jantungnya bergemuruh hebat. Ia mengenal wanita itu. Sangat mengenalinya bahkan. Wanita yang ia pergoki sedang berduaan dengan Sasena disalah satu toko sepatu empat bulan lalu. Wanita itu tertunduk malu dan membisu. Mata Enola mengarah pada papan nama yang tertempel di kemeja yang wanita itu kenakan. Tertulis dengan sangat jelas, HANUM. Bibir Enola sedikit tertarik keatas. Tanpa banyak bicara, Enola segera masuk walaupun napasnya masih tak beraturan. Ia menahan emosinya, kalau saja ia tak mengontrol diri, pasti tangannya telah melayang pada wajah wanita itu. …. Enola sedang duduk manis di perpustakaan kampus sendirian, membaca beberapa buku sastra lama yang memang ia kagumi. Enola memang lebih senang sendiri atau ditemani dengan Alena dan Bastian, sahabatnya. Mata Enola mulai lelah, sehingga ia memutuskan untuk mengembalikan buku itu ketempatnya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan gadgetnya. Selain ia hobi membaca, ia juga hobi berselancar didunia maya. Kali ini ia memperbarui timeline twitter miliknya, menyisipkan kata-kata yang penuh makna dan sesuai realita. Ia melamun, hingga langkah kaki milik Alena dan Andre tak ia hiraukan. Ia tersadarkan oleh suara kursi yang dibuat oleh Andre. “Ngalamunin apa sih En?” Andre penasaran. Pantatnya ia jatuhkan diatas kursi, kemudian membuka buku fisika kesayangannya “enggak kok.” Enola menggeleng. “Halah, alibi. Pasti keinget lagi deh sama Sasena” kata Alena yang sibuk dengan gadgetnya. “dibilangin jangan lagi inget-inget dia juga, percuma!. Dia gak akan kembali, terus berlutut didepan kamu dan menangis menyesali perbuatannya kan? Lanjutnya panjang. Enola tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak diparu-paru lalu menghembuskannya dengan penuh kerendahan, kepalanya menganguk membenarkan kata-kata yang baru saja terucap dari bibir mungil Alena. Lalu ia kembali sibuk dengan gadgetnya. Matanya menangkap sebuah nama yang baru saja meretweet kicauan yang barusaja ia update. Tanpa ia sadari ia menstalking akun itu, akun milik Bayu Pramadi. Akun yang berhasil menarik perhatian Enola karena isinya yang penuh dengan kata-kata motivasi. Ada sedikit senyum tergambar dari bibir Enola yang tak sengaja ditangkap oleh Andre, membuat Andre yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. “Ehem. Gadgetnya ada gambar apa sih, kok senyum gitu?” Kata Andre yang sedikit melirik Enola. Enola dan Alea menoleh kearah Andre hampir bersamaan. Dahi mereka sama-sama berkerut. “Bukan kamu Al, tuh sampingmu.” Kepala Andre mengarah pada Enola yang diikuti oleh Alea. “Hehehe, gapapa kok. Ini lagi baca tweet motivasi. Bagus banget deh.” Enola tersenyum. Ia kemudian melirik arloji yang terpasang manis ditangannya. “Eh, udah Sore. Pulang yuk.” Katanya sembari menyambar ransel yang berada disampingnya lalu menyelipkan gadgetnya kedalam ransel itu. Mereka lalu meninggaklan perpustakaan yang semakin sepi. Enola sedang duduk manis didepan tumpukan buku yang akan ia baca untuk ujian minggu depan. Kepalanya terasa berat. Ia berusaha memaksakan semua mata kulaih masuk dalam otaknya, tapi sia-sia. Ia menutup buku, bola matanya menatap lekat langit malam lewat jendela yang masih terbuka. Sesekali ia menarik napas panjang. Ia kembali teringat dengan akun twitter milik Bayu Pramadi. Entah mengapa akun itu sangat menarik perhatiannya, membuat ia seolah melupakan kegalauan hatinya. Lamunannya buyar ketika terdengar dering dari HP miliknya. Ia membalikkan badan lalu mengambil HP yang berada disamping tumpukan buku. Ia membuka pesan singkat yang ia terima tanpa membaca terlebih dahulu pengirimnya. Ia membaca isi pesan singkat itu sampai habis. Matanya memanas ketika ia menemukan bahwa pengirim pesan itu adalah Sasena. Seketika, ia merasa kekurangan banyak oksigen, dadanya sesak, matanya memanas. Bisa kau menghubungiku kembali setelah apa yang kau lakukan terhadapku empat bulan yang lalu? Semudah itukah kau meminta maaf atas semua kesalahanmu? Enola bergumam sendiri. Ia tak membalas pesan singkat itu, hanya butir demi butir air mata membasahi pipinya. Kini setelah ia berusaha sangat keras untuk melupakan Sasena, laki-laki itu datang kembali dalam kehidupannya dan merusak segalanya. …. Enola tak bertingkah seperti biasanya, ia lebih banyak terdiam dan terlihat sangat murung. Bahkan ia terkesan menghindar dari Andre dan Alena. Seharian ia hanya mengurung diri di kelas. Ia masih terus teringat dengan kejadian kelam yang ditorehkan Sasena dalam hidupnya. Matanya terpejam. Ada ribuan sesal mengapa dahulu ia mencintai laki-laki itu. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Ia membuka kembali matanya yang terkatup dan berselancar didunia maya. Ada pesan ditwitter miliknya. “Kegalauan hati hanya akan menyiksa diri kita. Hapuslah sedikit demi sedikit, lupakanlah semua kepahitan yang pernah mereka torehkan. Ikhlaskan, karena hanya dengan cara itulah kita bisa mempercepat melupakan. Bukankah semua ini membuat kita semakin kuat dan membuat kita tak lekas mempercayai omongan manis seseorang? So, be wise. Don’t ever look back again, face the future.  ” pesan dari seseorang yang tak pernah ia sangka. Bayu Pramadi. Ia tercengang namun dengan sangat seksama membaca pesan itu. Enola bergeming. Ia berpikir sejenak. “benar juga apa yang dikatakan orang ini” batinnya. Enola bagai tersihir oleh kata-kata mutiara laki-laki itu. Ia tersenyum dan jari-jarinya mengetik balasan untuk Bayu. “Bukan aku tak mau melupakan, aku berusaha keras melupakan, tapi ia kembali lagi dan menghancurkan semuanya. Bahkan ia seolah tak punya dosa.” “Dasar laki-laki tak bertanggung jawab! Berusahalah untuk tak membalasnya.” Balas Bayu beberapa detik kemudian. Enola dan Bayu seperti sudah bertemu. Mereka menjadi semakin akrab dan tak canggung untuk bercerita tentang masalah masing-masing, Enola yakin bahwa Bayu bukan tipe laki-laki seperti Sasena yang bisanya Cuma mainin perasaan. Enola juga tau kalau Bayu pernah mengalami hal serupa dia, diselingkuhi. Kini wajah Enola berubah menjadi lebih cerah, bibirnya kembali menebar senyum. Jarum jam dinding yang tergantung di dinding kamar Enola menunjuk angka 22.00. matanya hampir terpejam, namun kembali membuka ketika HPnya berdering sangat keras. Ia membaca layar HPnya. Tepampang barisan nomor 12 digit disana, dahinya menyerngit lalu ia menekan tombol bergambar ganggang telepon warna hijau. Tak lama setelah ia berkata “halo” ia mendengar suara yang sangat ia kenal dari seberang. Suara milik Sasena. Suara itu mencoba berdialog dengan Enola namun tak ditanggapi Enola. Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat kaku. Matanya kembali mengeluarkan air mata, ia menutup telepon dan membantingnya keatas tempat tidur. Ia merunduk dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya semakin menjadi. Dadanya sesak, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali ponselnya berdering, kali ini Sasnena menghubunginya lewat SMS, namun tak juga di tanggapi Enola.Enola mematikan ponselnya, kepalanya terasa berat, ia mencoba memejamkan mata walau perasaannya kacau. “Enola, kamu kenapa sih, engga biasanya kamu seperti ini. lebih banyak diam, pesen makanan ga dimakan, berkali-kali menghela napas panjang. Kamu kenapa?” kata Alena keesokan harinya ketika mereka sedang ada dikantin. “enggak apa-apa kok. Aku lagi enggak enak badan aja.” Kata Enola yang akhirnya menyeruput jus jeruknya. “kamu kenapa-kenapa El, cerita deh ada apa?” Alena mendekat kepada Enola Enola menarik napas panjang dan menghentikannya sebentar diparu-paru. Bola matanya memancarkan kesedihan. “semalem Sasena menelepon aku Al, aku ga tau kenapa dia tau nomor HPku yang baru, padahal enggak ada teman-temannya yang pernah aku hubungi kan? Aku juga di SMS, dia minta ketemuan dengan aku. Tapi engak aku balas. Aku menonaktifkan HPku sampai detik ini.” Enola terisak. “Aku enggak sanggup Al, kenapa dia datang lagi? Kenapa dia seolah tak punya salah? Luka di hatiku masih basah Al, tapi dia menaburi garam pada lukaku.” Lanjutnya. Ia masih tersak. Tangan lembut Alena mendarat dipunggungnya. Mengusapnya dengan penuh perasaan. “Sabar ya En, mungkin ini ujiannya melupakan seseorang, tapi kamu jangan khawatir, suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari dia, karena laki-laki yang baik, untuk wanita yang baik pula.” Kata Alena sambil memeluk Enola. Enola menyeka air matanya. Ia mencoba menata kembali emosinya. Tak lama Andre datang. Ia mengambil tempat duduk langsung berhadapan dengan Enola. Ia menangkap sesuatu yang aneh pada wajah Enola saat Enola menengadahkan wajahnya, namun Andre terdiam, ia melihat Alena, sorot metanya seolah mencari penjelasan. Namun ketika Alena bungkam, ia kemudian menyantap makanan yang ia pesan. Sedangkan Enola, ia kembali berselancar, kembali mengobrol dengan Bayu yang mampu membuatnya tentram. Mereka semakin jauh terjebak dalam dunia yang semu, hingga sampai mereka bertukar nomor telepon dan berencana untuk bertemu. Hari berganti hari, begitu pula Enola yang telah melupakan sebagian kisah kelamnya bersama Sasena. Wajahnya semakin cerah karena setiap hari, bahkan setiap saat ada sahabatnya yang selalu mendukugnya, terlebih Bayu yang mampu mengobati luka yang ditorehkan Sasena. Baginya Bayu adalah sosok yang ramah dan baik. Hari ini Enola, Alena dan Andre berkumpul untuk membicarakan rencana mereka pergi liburan. Mereka ingin merefresh pikiran yang berbulan-bulan dijejali dengan materi kuliah, tugas dan masalah-masalah yang tiada henti menghantui. Kali ini Enola dan Andre yang paling antusias, bola mata mereka berbinar-binar karena mereka sedang merencanakan sesuatu. Ponsel milik Enola bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ia segera membuka pesan itu, pesan dari Sasena yang isinya dia ingin bertemu. Seketika wajah Enola memerah. Ada amarah yang terpancar dari wajahnya. Ia menarik napas, menahan air matanya yang hendak terjatuh. Setelah membaca pesan itu, ia menekan tombol delete dan segera memasukkan ponselnya kembali kedalam saku dan mencoba mengabakan apa yang baru saja terjadi. Ponsel Enola kembali bergetar tepat lima menit setelah acara rapat selesai. Kali ini bukan Sasena, melainkan dari Bayu. “Hai En selamat pagi. Aku ganggu kamu enggak?” “Selamat pagi Bayu. Enggak kok. Kenapa?” Balasnya. “En, kan kita udah lama berhubungan lewat dunia maya. Apa kamu enggak mau kita berhubungan di dunia yang nyata? Maksudku, setidaknya kita bertemulah, siapa tahu bisa jadi sahabatmu.” Balasnya kemudian. “Emmmm.. boleh sih, kapan?” “Hari sabtu ini, gimana? Jam 19.00 ya, ku tunggu di alun-alun kota Kudus” “All right Bayu, bisa diatur kok. Tapi aku bawa temenku ya, soalnya ga baik laki-laki sama perempuan ketemu malem-malem berdua.” Enola membaca sekali lagi pesan yang hendak ia kirimkan ke Bayu sebelum ia menekan tombol send. “Oke, gak apa-apa. Tadinya juga aku mau bilang itu ke kamu. Eh, kamunya udah pinter aja.” Enola menarik kedua sisi bibirnya keatas, membuat Andre dan Alena saling berpandangan melihat tingkahnya. Enola tak berkata sepatah katapun, ia hanya mengangukkan kepala tak jelas. “Kalian mau enggak besok hari Sabtu ke alun-alun kota?” Ucap Enola memecah keheningan. “Mauuuu” Teriak Andre dan Alena bersamaan “Tumben?” Kata Alena memandang Enola dengan penuh penasaran “Ihhh, gausah gitu litanya.” Tangan Enola mencubit pipi Alena Hari-hari Enola berubah menjadi hari yang membahagiakan walau terkadang pesan singkat dari Sasena mampir keponselnya dan sesekali Enola membalas pesan menyebalkan itu. Enola telah banyak melupakan kenangan tentang Sasena yang sempat membuat hatinya kalut dan membuat kepalanya terasa berat. Semua karena ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang dikasihinya, sahabat yang selalu ada dan selalu mendukungnya bagaimanapun keadaan Enola. Hari yang ditunggu-tunggu Enola datang. Ia telah berada di salah satu restoran yang ada di alun-alun kota Kudus bersama dengan Alena dan Andre. Mereka sengaja duduk di sebelah sudut restoran supaya bisa dengan leluasa melihat tamu yang datang. Beberapa kali ia melihat seorang laki-laki datang yang ia kira Bayu, tapi ternyata ia salah. Dan ketika ia sedang bergurau dengan Andre dan Alena, ada seorang laki-laki datang mengagetkan mereka. “Enola Sarassati?” kata laki-laki itu. Enola segera menoleh kearahnya. “Ya, saya sendiri. Kamu?” Enola kemudian Berdiri. Laki-laki itu tersenyum, mengulurkan tangannya yang disambut dengan tangan Enola. “Bayu Pramadi. Teman chattinganmu.” “Bayu? Hai, oh silahkan duduk.” Bayu menarik kursi yang ada disamping Andre dan segera mengkode pelayan untuk menyiapkan hidangan untuknya. Bibir Alona tak henti menyunggingkan senyum dan mengenalkan Bayu kepada Alena dan Andre. Mereka berbincang-bincang dan anehnya mereka seperti sudah saling mengenal sebelumnya, akrab sekali. Tiba-tiba Alena dan Andre permisi untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan Enola dan Bayu berbincang berdua. Ditengah perbincangan mereka, sesosok laki-laki tinggi besar menghampiri mereka. Enola memandang laki-laki itu denan sorot mata yang penuh dengan kebencian dan kekecewaan. Sedangkan Bayu, ia hanya diam, bola matanya mengawasi laki-laki tinggi besar itu. “Oh, jadi kamu kayak gini El?” Ucap laki-laki itu. “Jadi ini alasan kamu. Di telepon enggak pernah mau angkat, di SMS gak dibales!” Lanjut laki-laki itu. Nada suaranya meninggi. Enola bungkam. ia segera menyambar tas yang ada disampingnya dan mengajak Bayu pergi. Belum sampai selangkah, tangan laki-laki itu berhasil menghalanginya. “Ih, lepaskan Sasena!” Perintah Enola sembari mengibaskan tangan Sasena, namun pegangan Sasena terlalu kuat. “Lepaskan!” Nada suara Enola tak kalah dengan nada suara Sasena. “Aku enggak akan melepaskan tanganku sebelum kamu kembali lagi sama aku!!” “Lepaskan!” kamu jahat Sas! Kamu jahat! Kamu enggak tahu betapa sakitnya hatiku.” Enola terisak. “Bisa tolong lepaskan tangan Enola?” Kata Bayu sembari mencoba melepaskan pegangan Sasena. “Siapa kamu?” Mata Sasena memencarkan amarah. “Kamu yang siapa? Kamu tahu kan, kita udah enggak ada hubungan lagi semenjak kamu berhubungan dengan wanita itu? Wanita yang seribukali lebih sempura daripada aku? Wanita yang berhasil membutakan matamu? Kamu tuh. Arrrggggghh!!” Enola bercucuran air mata dan berlari meninggalkan tempat itu. Bayu mengekori Enola yang masih terisak. Sasena mematung dan membiarkan Enola dan Bayu berlalu. Enola menuju tempat duduk yang berada ditaman untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau. Ia menarik napas panjang berkali-kali. Bayu duduk tepat disamping Enola. Mencoba untuk menenangkan emosi gadis itu. Ia merogoh saku celana, lalu diekluarkannya sapu tangan dan menyodorkan ke Enola. “Makasih Bay.” Kata Enola yang mencoba tersenyum “Menangislah jika itu membuatmu lega En” kata Bayu kemudian Enola tersenyum. Ia tak menjawab kata-kata Bayu. “Dulu aku mencintai dia dengan cara sederhana Bay, dan sekarang aku juga akan melupakan dia dengan cara yang paling sederhana.” Kata Enola memecah keheningan “Lupakan En, laki-laki seperti itu enggak pantes dapet cinta tulus kamu.” “Kamu sekarang tau sendiri dia kayak gimana kan?” Bayu terdiam. Kepalanya menganguk pelan. Matanya menata Enola lekat. Ada desiran aneh yang hinggap dihati bayu kala ia melihat Enola menangis. Rasa yang sedang ia rasakan sebenarnya bukan tanpa alasan. Ia telah menemukan kenyamanan dengan perempuan disampingnya ketika ia mulai chattingan dengan Enola. Dan sekarang rasa itu bertambah ketika ia melihat ketulusan disorot mata Enola. …. Dua bulan telah berlalu, Enola sedang berkemas untuk acara liburannya ke karimun jawa bersama dengan Alena, Andre dan…Bayu. Ya, Bayu ikut dengan mereka karena Bayu juga ingin merefresh pikiran yang selama sebulan penuh dibebani dengan berbagai masalah hidup yang lain. Setelah semua beres, ia melirik jam dinding yang menunjukkan ppukul 07:00, kemudian ia bergegas untuk meluncur kerumah Alena. Rencananya mereka akan berangkat dari rumah Alena dan mengendarai mobil Alena. Kini ia telah berada di rumah Alena, dan ia melihat Andre dan Bayu telah bersiap sedia dengan tas ransel mereka yang lumayan besar. Mereka melihat Enola dari kejauhan dan mengkodenya untuk segera masuk mobil karena mereka akan langsung berangkat. Sepanjang perjalanan ke Karimun Jawa, mereka banyak bercanda dan terkadang menikmati pemandangan yang tersaji. Mulai dari keramaian penduduk yang sedang beraktivitas dan hamparan sawah dengan padi yang telah ranum. Alena dan Enola sedang tidur di jok belakang sedangkan Andre menyetir mobil sambil ditemani perbincangan hangat dengan Bayu. tak sengaja Bayu melirik Enola dari kaca yang tergantung di depan mobil. Mata Bayu enggan berpaling dari pemandangan yang menggetarkan hatinya itu. ada rasa kekaguman yang begitu besar didalam jiwa Bayu. Tanpa sepengetahuan Bayu, Andre tak sengaja melihat Bayu mengamati Enola yang sedang tidur. “Kamu suka dia Bay?” “E-ehh, enggak kok.” Bayu gagap. Ia memalingkan kepalanya. “Gausah bohong Bay, keliatan banget dari matamu. Mulut bisa bohong, tapi body language enggak akan bisa bohong.” Kata Andre yang masih focus menyetir. Ia sedikit tersenyum Bayu membisu. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepada Enola yang sudah terlanjur jauh. Tetapi ia takut untuk mengungkapkan karena ia tahu luka hati Enola masih belum kering sempurna. Ketidakberanian itulah yang membuat ia menjadi penggemar rahasia Enola. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, mereka telah sampai di Karimun Jawa. Kegembiraan amat tergambar dengan jelas di wajah mereka, mereka lalu menyewa penginapan untuk beberapa hari. Sore harinya, mereka sedang berada dibawah tenda untuk menikmati keindahan Karimun Jawa. tiba-tiba Enola berdiri dan menarik tangan Bayu untuk ikut dengan dia, Bayu tak menolak. Ia mengekori Enola yang berjalan lumayan cepat. Sedangkan bola mata Andre mengikuti gerak Enola dan Bayu. “Eh En, ada apa ini?” Tanya Bayu ketika Enola berhenti dibawah pohon kelapa. Mereka kemudian duduk berdampingan. “Andre Bay.” Mata Enola bertemu dengan miliknya yang berhasil membuat riuh hati Enola. “Andre mau nembak Alena.” “Haaaa?” “Iya Bay, dia udah lama tuh mendem rasa buat Alena.” Enola melihat Andre dan Alena dari kejauhan. “Liat deh.” Kepalanya mengarah pada Alena dan Andre yang sedang duduk berdua. Tak ada kata yang sanggup mereka ucapkan. Mereka merasakan kenyamanan dalam diam. mencoba berbahasa meski lidah tak mampu merangkai kata. Dalam senja, dalam hening yang nyata mereka mencoba mengenal degup yang sama. “Enola.” Bayu memandang lekat wajah perempuan disampingnya. Begitupun Enola. Ia juga memandang lekat wajah Bayu yang baginya penuh dengan kehangatan dan mampu membuat hatinya bergemuruh. Berkali-kali ia menarik napas untuk sekedar menenangkan hatinya yang kacau. “Boleh enggak aku selalu datang menemani kamu?” “Boleh lah Bay, kan kamu temen aku.” Enola tersenyum “Aku gak Cuma pingin jadi temen kamu En, aku pengen menemanimu menatap masa depan. Aku pengen mengobati lukamu. Aku pengen menjadi teman hatimu.” Mata Bayu berpautan dengan mata Enola. Jantungnya bertambah keras berdegup. “Aku mau Bay.” Enola menunduk. Bayu memeluk Enola erat. Kebhagiaan jelas terpancar dari bola mata mereka. Enola merasakan bibir Bayu mendarat singkat di keningnya. Mereka lalu bergandengan menghampiri Alena dan Andre yang sedang duduk dibawah tenda. Mata mereka juga memancarkan kebahagiaan, sama seperti Enola dan Bayu. Mereka kini sedang menikmati gemerlapan air laut yang berwarna keemasan karena terpantul oleh sinar matahari sore. Mereka akan segera melepas senja yang begitu indah. Namun teramat indah bagi Enola yang berhasil melepas senja didalam hidupnya dan menyambut gelap malam dengan bintang yang begitu bersinar, bintang yang tak pernah kenal waktu untuk selalu menyinari hatinya, Bayu Pramadi.

contoh cerpen percintaan



DOKTER CINTA BOCAH JALANAN

Jam tangan yang kupakai masih menunjukkan pukul 16:30 WIB. Mobilku terhenti ketika salah satu dari sekian banyak  lampu lalu lintas dikota Bandung  berubah menjadi merah. Kali ini bukan ditemani dengan panas terik, tapi ditemani dengan rintikan hujan  yang menyegarkan. Sedari tadi kedua bola mataku memandangi sepasang anak laki-laki dan perempuan yang dengan cekatan menawarkan ojek payung kepada pengguna jalan yang berlalu lalang. Ku parkirkan mobilku di taman kota. Aku melangkah mendekati kedua bocah jalanan tersebut.
“Hai.” Bibirku menyunggingkan senyuman.
Mereka terdiam. Dengan penuh heran mereka menatapku. Kulihat harapan disorot mata mereka. Seketika hatiku terenyuh. Bocah yang masih terlalu kecil untuk menghadapi kerasnya hidup dijalanan. Namun aku sangat iri dengan mereka. mereka begitu kuat, dan kupikir mereka tak pernah mengeluh atas keadaan dan juga tak pernah menyerah. Berbeda dengan aku yang kadang tak pernah bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadaku dan keluargaku. Tanpa aku sadari aku menangis.
“kakak kenapa?” Tanya si gadis dengan polosnya.
Sambil menyeka air mataku aku menggelengkan kepala. Berusaha mengatur kembali emosiku yang sempat kacau.
“enggak apa-apa kok. Eh, kalian udah makan?” tanyaku dengan antusias.
“belum kak.” Kata si gadis.
“eh, kamu ini ga sopan banget deh!” Nada suara kakaknya meninggi.
“hahaha… ga apa-apa kok. Ayo ikut kakak” aku menggandeng si gadis. Kakaknya mengekori aku dibelakang.
Tak butuh waktu lama kita sampai di taman tempat mobilku terparkir. Kusuruh mereka masuk. Kupacu mobilku menuju restoran cepat saji terdekat. Kami segera masuk dan memberi  kode pelayan untuk segera menyiapkan hidangan untuk kami bertiga.
“Eh, kakak belum tahu nama kalian” kataku smabil meletakkan sendok “Nama kakak Zahra Pradipta. Kalau kalian?” lanjutku.
“Namaku Alvan kak” jawab si kakak dengan mulut penuh makanan.
“Kalau si cantik ini siapa?” kataku sambil menyentuh wajahnya. Kulihat pipinya memerah.
“aku Anisa kak.” Bibir mungilnya mengembangkan senyuman manis.
Setelah makanan habis, aku mengantarkan kedua bocah itu kerumah mereka. mereka sebenarnya tak punya rumah. Namun mereka biasa tidur dirumah singgah. Ku antar mereka sampai dalam. Dan betapa kagetnya aku. Kudapati sosok laki-laki gagah berdiri penuh cemas diruangan itu.
“kak Naufal…” teriak Anisa sambil lari memeluk laki-laki itu.
“Ya Allah… kalian dari mana saja? Jam berapa sekarang? Kalian ingat kan hari ini ada jadwal untuk belajar.” Laki-laki itu sedikit marah.
“oh maaf mas. Ini bukan salah mereka. tapi ini salah saya. Tadi mereka saya ajak jalan-jalan  dan makan dulu. Jadi tolong jangan salahkan mereka.” aku memohon.
“kamu siapa?” selidik laki-laki itu. Dahinya berkerut.
Tapi belum sempat aku membuka mulut, Alvan terlebih dahulu menyebutkan nama lengkapku. Aku tersenyum.
“saya Zahra. Rumah saya deket kok dari sini. Tadi ga sengaja ketemu mereka di perempatan jalan lagi hujan-hujan.”
“oh Zahra. Saya Muhamad Naufal Mahmud. Panggil saja saya Naufal. Jangan panjang-panjang.”
Kita berdua berjabat tangan. Namun tak lama setelah aku tahu tentang Alvan dan Anisa, aku pamitan pulang karena waktu semakin senja. Selama perjalanan pulang entah mengapa setan memonopoli seluruh otakku. Sosok Naufal membuatku kagum. Laki-laki berpendidikan yang dengan ikhlas menyisihkan sedikit waktunya untuk mendidik anak-anak kurang beruntung. Betapa beruntung kelak wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Pikiranku mulai keluar jalur.
Kujumpai suasana sepi dirumahku. Ayah dan ibu belum pulang dari rumah sakit tempat mereka bekerja. Ayahku seorang dokter spesialis bedah dan ibuku seorang perawat yang ada di rumahsakit tempat ayah bekerja. Menurut cerita mereka, dahulu ayah jatuh cinta pada ibu karena ibu orang yang cantik berjilbab,begitu baik, lemah lembut dan tulus. Persis dengan apa yang didambakan Ayah. Walaupun begitu ibu sulit didapatkan. Namun akhirnya dengan usaha dan kerja keras Ayah, ibu berhasil menjadi milik beliau. Dan aku sendiri, aku adalah seorang dokter muda. Seperti juga halnya ibuku, aku juga berjilbab. Aku anak tunggal. Maklum saja jika aku kalau aku betah menatap lama anak-anak , itu karena aku merindukan sosok adik.
Aku telah sampai dikamarku. Kurebahkan tubuhku yang sedikit lelah ini. Tak lama kemudian, suara mobil membuatku beranjak dari ranjang empuk dan aku keluar menyambut ayah dan ibu. Dengan antusiasnya ku ceritakan pertemuan antara aku dengan Alvan dan Anisa, juga Naufal.
“ayah,” kataku memulai pembicaraan
“Hem? Ada apa sayang? Wajahnya berpaling kearahku
“bagaimana kalau kita adopsi saja mereka.” pintaku hati-hati
“bagaimana ibu?” ayahku berpautan dengan ibu.
“sebenarnya ibu juga udah kangen punya anak-anak kecil. Mereka sangat menggemaskan. Tapi apa tidak terlalu banyak, sekaligus 3 begitu.” Kata ibuku
“ayah sebenarnya tidak keberatan Za, ibu dan ayah juga sudah berencana mengadopsi anak.” Ayahku menimpali
“Oh, Cuma 2 kok Bu. Naufal itu seseorang yang sering mengajari mereka beajar. Dia masih muda sih, kayaknya seumuran aku. Tapi dia tulus sekali.” Mataku bebinar-binar.
Sepertinya ayah menangkap hal sinyal dari mataku. Begitu aku selesai berbicara, beliau saling berpandangan dengan ibu seraya tersenyum. Aku memang tak bisa menutupi rasa kekagumanku terhadap Naufal. Dia sungguh luar biasa.
……………………………………………………………………………….
Pukul 12 siang, aku menyambangi rumah singgah dan berharap bertemu dengan Alvan dan Anisa. Aku tak sendirian, kuajak sahabat karibku Niken. kami membawakan mereka pakaian baru, buku dan makanan. Sesampainya disana, kami menemukan Alvan dan Anisa sedang belajar mengaji dengan Naufal. Aku tersenyum melihat mereka. bagiku itu adalah hal yang menentramkan jiwa. Namun aku dan Niken tak segera masuk. Setelah selesai mengaji kami segera mengetuk pintu.
kami memberikan bingkisan yang sengaja tadi kami beli untuk mereka. Sangat terlihat mereka senang sekali menerima pemberianku. Anisa dan Alvan segera membuka bingkisan yang kami bawa.T ak sengaja aku melihat Naufal yang dari tadi tak berbicara. Ia menatapku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku menjaga pandanganku agar tidak menimbulkan hawa nafsu diantara kita. Akhirnya waktu pula yang memberikan kita kesempatan untuk berbicara, hingga akhirnya aku tahu kalau Naufal juga seorang dokter muda. Aku juga tahu kalau ia anak seorang dosen di universitasku. ia tahu banyak hal, termasuk tentang agama. Aku semakin kagum dibuatnya, aku sendiri, walaupun keluargaku termasuk yang taat beragama, namun menurutku masih kalah dengan keluarga Naufal. Aku jadi bisa banyak belajar  dan mandapat pencerahan dari Naufal. Naufal termasuk laki-laki yang dingin, tapi senyumnya sangat manis. Entah mengapa aku semakin kagum saja dengan sosok laki-laki ini. Sering sekali aku  kerumah singgah untuk menemui Alvan dan Anisa. Aku juga sering dimintai Naufal menggantikan dia untuk mengajar di rumah singgah. Ya, aku semakin sering berhubungan dengan Naufal.
Suatu hari ketika aku kerumah singgah kudapati Naufal tengah bercengkrama asyik dengan anak-anak. Disampingnya ada seorang gadis. Langkahku memelan. Dadaku sesak melihat keakraban mereka.
Air mataku hampir saja berjatuhan, namun segera aku menyeka dan menarik napas. Rasa ini belum pernah aku rasakan selama aku mengenal sosok laki-laki. Memang selama ini aku belum pernah pacaran, tapi rasa yang kualami terhadap Naufal berbeda. Semacam rasa cemburu yang berhasil membuat hatiku teriris. Akhirnya aku sampai didepan pintu rumah singgah walau dengan perasaan yang berantakan. Aku tersenyum getir melihat keakraban yang terjadi antara Naufal dengan si gadis disbelahnya. Gadis itu tersenyum kepadaku. Naufal dan sigadis bertatapan seperti mengisyaratkan sesuatu.
“Oh ini ya yang namanya Kak Zahra. Ayo masuk. Alvan dan Anisa sering membicarakan kamu lho” Gadis itu menggandengku masuk. “ayo duduk” lanjutnya.
Aku tersenyum simpul. Mataku tak sengaja menatap mata Naufal yang juga menatapku. Aku langsung menunduk dan menuruti perintah si gadis. Mendadak aku terdiam.
“Namaku Rinda. Aku dan kak Naufal sering kesini untuk mengajar anak-anak jalanan dan yang rumahnya deket sini.” Ia mulai memperkenalkan diri.
“hai Rinda. Oh ya? wah, kamu hebat ya. masih muda tapi peduli sekali dengan lingkungan sekitar. Jarang-jarang lho ada gadis seperti kamu.” Kataku.
Rinda menjawab dengan senyuman. Sedangkan  Naufal bangkit dari tempat duduknya. Ia meninggalkan kami yang sedang mengajar anak-anak. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Aku dan Rinda melanjutkan aktivitas kami. Canda anak-anak sering memecahkan keheningan diantara kami. Sesekali kami tertawa. Kami bergantian membacakan dongeng atau bernyanyi. Tanpa aku sadari, aku menjadi akrab dengan Rinda, gadis yang berhasil membuatku cemburu.
……………………………………………………………………………………….
                Baru saja aku memeriksa pasien terakhirku sebelum Niken meneleponku. Ia ingin sekali bertemu denganku diperpustakaan kota yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempatku bekerja. Niken menatapku dengan penuh heran karena sedari tadi pipiku merona membicarakan Naufal. Sepertinya matanya menangkap sinyal-sinyal kekagumanku terhadap Naufal. Niken hanya mengangukkan kepala sambil sesekali menggodaku.
“Iya deh yang lagi fell in love. Melayang-layang  mulu tuh sampe lupa daratan.” Ujar Niken.
“Kamu malah udah punya. Aku telat kan ya?” balasku. Gelak tawa seketika pecah karena obrolan gila kita.
                Kini mobilku telah terpakir rapi berjejeran dengan mobil ayah dihalaman rumah. Aku segera masuk. Ayah dsn ibu telah duduk manis dimeja makan menyantap makan sing yang telah disediakan oleh pembantu. Ku jabat tangan ayah dan ibu. Aku sengaja menarik salah satu kursi yang berhadapan dengan ayah. Senyumku menyungging. Ayah segera bereaksi, dahinya berkerut. Bibirnya sedikit terangkat. Tapi ibu terdiam. Kedua bolamatanya mengikuti gerakanku.
“Kenapa Za?” Ayah berselidik.
Kepalaku menggeleng. Tapi bibirku masih sedikit terangkat. Tanganku sibuk mengambil makan siang.
“Zahra lagi jatuh cinta tuh Yah” ujar ibuku singkat. Kepalaku menoleh dengan mulut penuh makanan.
“iya Za?” mata ayahku melebar. Kepalaku menggeleng.
Sialnya, aku tak bisa merahasiakan desiran rasaku terhadap Naufal didepan orang tuaku, mereka terlalu memehami segala tingkahku. Akhirnya karena berhasil terpojokkan, aku mengungkapkan semua pada ayah dan ibu.
Hari berganti hari, siang, malam, matahari, bulan, dan bintang masih setia menemani terik dan gelapnya dunia. Semua makhluk dibumi juga masih menjalankan kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, begitu pula aku. aku sedikit melupakan kejadian waktu itu yang berhasil membuatnku terbakar cemburu. Walau terkadang rasa yang tak diundang itu muncul dan mengganggu semua konsentrasiku. Ya, bahkan kami sering bersama mengajar anak-anak. Mengobati ketika ada yang sakit, dan juga membelikan mereka buku atau baju baru. Semua kita lakukan dengan tulus ikhlas.
Tak pernah ada manusia yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Begitu pula aku. entah mengapa akhir-akhir ini aku berpikiran kalau aku akan kehilangan Naufal. Kemarin sore  ketika aku kerumah Naufal karena ada urusan dengannya, aku lihat Rinda dan keluarga Naufal tengah berbincang di teras rumah. Tanpa pikir panjang aku langsung memacu mobilku dan pulang. Hatiku kalut.  Dadaku sesak sekali, walaupun sempat aku tahan, tapi air mata ini tak bisa kubendung. Aku semakin yakin kalau Rinda dan Naufal pacaran. Bahkan Rinda telah dikenalkan dengan orang tua Naufal. Aku sempat menelepon Niken, airmataku bercucuran mengenang kedekatan Naufal dengan Rinda.
Sesampainya dirumah dan hingga kurasa aku bisa menguasai diriku lagi, aku menjelaskan keinginanku untuk segera mengadopsi Alvan dan Anisa kepada ayah dan ibu. Dan mereka setuju, besok mereka akan mengunjungi Alvan dan Anisa dirumah singgah. Ibu bahkan sudah membeli baju baru dan sedikit mainan untuk mereka. sekitar jam 12 siang, aku telah berada dirumah singgah bersama ayah dan ibu. Tampak Naufal dan Rinda sedang mengajar anak-anak degan serius. Setelah belajar selesai, kami masuk kerumah singgah dan bertemu dengan Alvan dan anisa. Wajah ibu paling berseri-seri. Mungkin beliau kangen mengurus anak-anak seumuran mereka. dan ayah tersenyum. Senyum yang sering aku lihat ketika dulu aku kecil. Naufal dan Rinda menyambut kami dengan rasa heran. Bahkan nampak sekali dahi Naufal ada garis-garis kecil. Ketika mendengar suaraku, Anisa datang dari dalam lalu memelukku erat. Entah kenal darimana, ayah dan Naufal tiba-tiba telah saling akrab begitu saja. Tak ada rasa canggung sedikitpun. Bahkan dengan ibukupun Naufal seperti sudah kenal akrab. Kami lalu duduk di ruangan rumah singgah. Ibu berkenalan dengan Alvan dan Anisa, sepertinya ibu menyukai kakak beradik itu.
“Za, ini yang namanya Naufal?” ayahku bertanya. Senyumnya mengembang seperti menggodaku.
“Eh, iya yah” kataku. “Kok ayah udah akrab begitu ya?” lanjutku heran.
“Lha gimana gak akrab. Ini sih dokter muda dan cerdas dirumah sakit ayah Za.” Ayahku berseri-seri.
Naufal tidak berbicara apapun. Ia hanya membalas pujian ayah dengan senyuman manis yang membuat pertahanan hatiku melemah. Setelah sebentar bercengkrama dengan Alvan dan Anisa, ibu bergabung dengan kami. Ia bertnya keadaan kedua bocah itu kepada Naufal dan Rinda. Ayah dan ibu juga mengungkapkan niatnya kepada Naufal untuk mengadopsi mereka berdua. Hari itu juga Alvan dan ANisa diboyong kerumah kami. Mereka sepertinya senang sekali menempati rumah baru. Kamar mereka terpisah. Kamar Alvan warna-warni dengan wallpaper gambar mobil seperti film cars. Sedangkan kamar Anisa berwarna dominan pink dengan banyak sekali boneka dan wallpaper bunga-bunga manis. Hari itu, aku sedih sekaligus senang. Senang karena aku berhasil mengubah hidup Alvan dan Anisa. Namun aku juga sedih karena aku akan jarang bertemu Naufal. Meskipun aku punya nomor hpnya, bahkan untuk menghubunginya aku harus berpikir berkali-kali. Aku tidak ingin dikatakan sebagai pengrusak hubungan orang.
……………………………………………………………………….
                Suatu hari, ketika aku sedang berjalan dilorong rak bagian makanan ringan di supermarket, aku bertemu Rinda. Ia senang sekali sampai memelukku berkali-kali. Akupun tak bisa menyembunyikan rasa kangenku terhdapnya. Dia sendiri, tidak ditemani oleh Naufal atau keluarga dari Naufal. Tanpa aku duga, ia malah bilang kalau Naufal ingin bertemu denganku lusa, ia tak menjelaskan apapun, tapi ia malah berlalu. Aku mematung cukup lama, otakku menerka-nerka alasan Naufal ingin bertemu denganku. Tepat dua hari setelah pertemuan mendadak ku dengan Rinda di Supermarket, seharusnya aku bertemu dengan Naufal hari ini. namun aku enggan keluar rumah. Kulirik HPku, tak ada SMS atau telepon masuk dari Rinda atau Naufal. Semua begitu abstrak, hingga kupikir mungkin ini adalah cara mereka untuk mengabarkan hubungan mereka kepadaku.
                Esoknya ketika aku selesai menikmati sarapan dengan ayah, ibu Anisa dan Alvan, tiba-tiba pembantuku menghampiri dan menyodoriku sebuah surat berwarna merah dengan hiasan bunga tulip warna-warni. Manis sekali. Kini semua mata tertuju pdaku seolah bertanya penulis surat itu. Aku membisu, kepalaku bergerak kekanan dan kekiri. Aku bergegas kekamar dan dengan segera kubuka surat itu. Ku baca dengan seksama rangkaian kata demi kata indah yang tercipta.
Dear Zahra.
Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hai, apa kabar? Lama ya kita tak bertemu. Kemarin sebenarnya ada yang ingin kusampaikan. Tapi lama ku menanti, tak ku jumpai kehadiranmu. Aku juga tak sengaja bertemu dengan Niken, sahabatmu. Ia banyak cerita tentang kamu, termasuk rasa cemburumu terhadap Rinda. Sebenarnya ini salahku, aku tak sempat mengatakan bahwa Rinda adalah adik kesayanganku. 
Zahra, sebenarnya kau adalah bidadari hatiku, entah sejak kapan hatiku terpaku pada sosokmu yang anggun itu. Aku tak bisa menolak pesonamu. Sungguh aku takut jika ini adalah nafsu syetan belaka. Tapi semakin aku ingin melupakanmu, semakin bayanganmu menghanytui setiap langkahku. Mungkin kamu akan menganggap aku mengada-ada. Namun ini kenyataannya. Berulang kali aku bertahajud memohon petunjuk-Nya, wajahmu yang selalu hadir disetiap mimpiku. Mungkinkan ini jawaban atas doaku? Aku tak benar-benar tahu. Yang hanya aku tahu, aku sangat mencintaimu.
Oh ya, mungkin ketika kamu membaca suratku ini, aku telah ada dipesawat. Aku akan melanjutkan sekolah dokterku diluar negeri. Aku mendapatkan beasiswa untuk menjadi dokter spesialis mata. Berat memang jika harus meninggalkanmu. Terlebih jika nanti aku merindukanmu. Tapi aku yakin, jika kau juga benar-benar mencintaiku, kau akan menunggu aku kembali.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Naufal

                Aku membisu. Air mata tumpah seketika setelah membaca surat dari Naufal. Ingin sekali aku memaki diriku sendiri yang terbutakan oleh rasa cemburu. Aku menyambar HP, mencari nama Rinda di kontakku. Aku meneleponnya. Tangisku masih menjadi. Kuungkapkan semua perasaanku yang campur aduk kepada Rinda. Rinda mencoba menenangkanku, tetapi sia-sia. Hatiku tetap membuncah tak karuan. Dan kini, walau terpisah jarak ribuan mil, aku dan Naufal selalu berkomunikasi. Aku berhasil menghubunginya walau sempat aku bersusah payah. Dia telah berjanji untuk segera pulang, melepas semua rindunya kepadaku, dan mengenalkan aku kepada oang tuanya secara resmi. Sebagai pacarnya.

Contoh cerpen



-MASIH MENUNGGUMU-


Adzan Subuh membangunkan seorang gadis cantik dari tidur lelapnya. Ia segara bangun untuk menunaikan kewajibannya terhadap Tuhan semesta alam. Kemudain ia melanjutkan aktivitas paginya yang tidak begitu sulit. Ia cukup menyapu lantai dan halaman rumahnya. Setelah semua selesai, ia lalu mandi, sarapan dan bersiap menuju sekolah. Disekolah ia termasuk gadis yang berprestasi. Ia sering diikutsertakan dalam olimpiade atau lomba mapel matematika atau kimia, dan hebatnya ia selalu mendapat juara. Ia juga termasuk anak yang sangat baik, ulet, rendah hati dan suka menolong, tak heran jika ia punya banyak teman.
Pagi itu, cuaca sangat cerah. Murid-muridpun telah berbaris sangat rapi dilapangan untuk mengikuti upacara bendera. Upacara berlangsung begitu khidmad dan tertib. Maklumlah, sekolah tempat ia menuntut ilmu mengharuskan siswanya berIQ  diatas rata-rata dan disiplin dalam berbagai hal. Jika ada siswa yang melanggar aturan sedikit saja, habislah ia. Setelah upacara bendera selesai, petugas upacara mengumumkan nama siswa yang mendapatkan juara dalam lomba Kimia tingkat provinsi yang diadakan minggu lalu. Tepuk tangan terdengar sangat riuh ketika nama Riani Sarassati diucapkan petugas. Ia berhasil mendapat juara 1 untuk yang kesekian kalinya. Riani sangat terkenal seantero sekolahan, bahkan namanya sudah santer terdengar di sekolah-sekolah lain.
Tak hanya para guru, teman-teman Riani banyak yang memberinya selamat atas prestasi yang ia torehkan pada sekolahnya dalam setiap lomba. Ia selalu dimintai bantuan teman-temannya ketika mereka tersendat dalam mengurusi mata pelajaran yang tak mereka mengerti. Dan dengan senang hati Riani mau mengajarinya. Kadang, sebagai imbalannya, teman-teman Riani membelikannya makanan walau sebenarnya Riani tak mengharapkan imbalan apa-apa.Terkadang ia sering mengajari Ulfi, sahabat sekaligus teman sebangkunya. Mereka  menyelesaikan soal kimia yang bagi Riani adalah soal-soal yang biasa saja, bahkan menjadi makanannya sehai-hari. Ulfa dan Riani merupakan sahabat yang tak terpisahkan, bisa dibilang dimana ada Riani, disana ada Ulfi. Pokoknya bagaikan perangko dan amplop.
……………………………………………………………………………..
Sinar matahari pagi datang kembali untuk memberi kehangatan penduduk bumi. Burung-burung tak henti-hentinya bernyanyi menemani pagi Riani yang indah. Sesampainya ia di sekolah, teman-temannya baik perempuan atau laki-laki silih berganti menyapa gadis cantik daan baik itu. Sebenarnya banyak siswa laki-laki disekolahnya banyak yang mengagumi bahkan jatuh cinta terhadapnya, namun Riani tak menanggapi laki-laki yang satu per satu mengungkapkan perasaan padanya. Ia bukan sok jual mahal atau apa, namun ia berpikir bahwa ia belum pantas untuk hal-hal semacam itu. Ia hanya ingin focus mengejar beasiswa kuliah ke luar negeri  yang sedari SMP ia ingin dapatkan.
Tanpa sepengetahuan teman-temannya, Riani mengagumi sosok Yudha. Saingannya dalam mendapatkan prestasi disekolahnya. Yudha adalah sosok yang baik, cerdas, dan bijaksana. Riani sering berkejaran nilai dengan Yudha yang juga pandai dalam berbagai hal. Tak jarang mereka berdiskusi untuk memecahkan berbagai soal yang tidak mereka pahami. Mereka juga sering dipasangkan dalam setiap lomba yang mengharuskan berkelompok. Mungkin rasa Riani timbul karena mereka sering bertemu dan berhubugan. Namun Riani sangat ragu dan menyimpan rasanya rapat-rapat. Ia takut kalau Yudha tak mempunyai rasa yang sama terhadapnya.
Saat istirahat, Riani  lebih sering terlihat duduk dibangku untuk membaca buku atau sekedar bercanda dengan Ulfi. Terkadang ia juga ke perpuatakaan untuk mengisi otaknya yang tak ada batasnya untuk menerima informasi baru. Saat itu, Ulfi sedang bergurau dengn Riani tentang Yudha yang sedang memperhatikannya. Sebenarnya Ulfi tidaklah salah, karena memang Yudha sering sekali memperhatikan setiap tingkah yang Riani ciptakan. Ketika Riani sedang melamun, sedang serius mengerjakan soal, maka kedua bola mata Yudha dengan setia menatap wajah gadis itu.  Apa lagi ketika Riani sedang berdebat dengan kawan-kawannya yang mempunyai pendirian sangat kuat atau saat ia menjelaskan setiap argumennya didepan kelas dengan senyuman manis, Yudha tak akan ketinggalan sedikitpun.
Sebenarnya sudah sejak lama Yudha mengagumi Riani. Seperi halnya Riani, Yudha juga memilih untuk memendam rasa yang semakin hari semakin bergejolak membuatnya tak karuan jika ada didekat Riani. Ia terlalu minder jika harus mengungkapkan kepada Riani yang menurutnya terlalu sempurna. Ditambah lagi, laki-laki yang nembak Riani kebanykan ganteng dan keren, hal itu yang membuatnya hanya diam. Ia hanya puas melihat Riani dari kejauhan dan sukses menjadi penggemar rahasia Riani.
…………………………………………………………………….
Kini mereka telah duduk di kelas XII, mereka tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain kecuali ujian. Mereka sedang sibuk-sibuknya belajar dan mengikuti bimbingan pelajaran yang diadakan oleh sekolah mereka atau lembaga dari luar demi satu tujuan, yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan. Rasa kagum mereka yang abadi untuk sementara mereka lupakan demi menghadapi UN yang telah didepan mata. Waktu mereka hanya terfokuskan untuk belajar dan belajar. Hingga waktu ujian tiba, mereka berhasil melewati ujian tersebut dengan baik. Disela-sela waktu menunggu pengumuman hasil Ujian, Riani mendaftar sebuah universitas di luar negeri dan Yudha mendaftar di Universitas Gadjah Mada. Suatu hari, Riani dipanggil keruang guru untuk menemui Mr.Guruh, wali kelasnya yang selama ini membimbingnya.
“Riani, selamat. Kamu berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat itu.” Kata Mr. Guruh dengan bangga
“benarkah pak? Bapak bercanda, kan?” jawabnya tak percaya.
“Tidak Ri, kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu mau. Sekali lagi, selamat nak. Ini surat keterangan yang diberikan kabupaten untuk kamu.”
“terima kasih pak, bapak tak hentinya mengajari saya. Semua ini berkat bantuan bapak.” Ucap Riani dengan berlinang air mata.
“iya Riani. Nanti kamu pulang, dan berilah orang tuamu kejutan. Mereka pasti sangat bangga dengan kamu.” Ucapnya
“iya pak, terima kasih” katanya seraya meninggalkan ruangan itu.
Dalam perjalanan menuju kelasnya, tak henti-hentinya ia mengucap syukur kepada Allah atas anugrah yang ia terima dari-Nya. Air matanya juga tak henti-hentinya menetes dari matanya yang sipit dan indah itu.  Sesampainya dikelas, banyak teman-teman yang memeluknya dan memberinya selamat atas keberhasilannya, tak terkecuali Yudha, sang pujaan hati. Ada rasa deg-degan ketika Yudha menjabat tangannya.
“selamat Ni, kamu hebat.” Ungkap Yudha
“ah, biasa saja. Makasih banyak Yud.” Balasnya sambil menyeka air matanya.
Tiba-tiba Ulfi datang dan memeluk Riani sambil menangis.
“kenapa Fi? Tanya Riani heran
“Ri, kalau kamu keluar negeri, kita bakalan jauh dong. Kalo aku kangen sama kamu gimana? Duh Ri, kok kamu tega sih ninggalin aku? Riani…” ucapnya sambil mempererat pelukannya terhadap Riani.
“ Ulfi, ga ada yang ninggalin kamu. Aku cumin sebentar kok, ntar kalo kamu kan bisa skyp-an sama aku. Ayolah, tekhnologi sekarang makin canggih bukan? Hiburnya
“Ri, aku akan merindukan kamu sayang. Aku menunggumu walau kau tak pernah tau” batin Yudha.
Adegan menangis karena haru dikelas Riani usai sudah. Kini, Riani telah berada dirumah dan sedang menikmati makan siang bersama keluarganya di ruang makan. Riani memberi tahu orang tuanya bahwa ia berhasil mendapatkan beasiswa itu. Orang tua Riani sangat bangga dan mengizinkan Riani ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya.
                Pengumuman kelulusan telah diterima Riani dan siswa yang lain di sekolah tempat Riani menuntut ilmu. Ia berhasil menduduki peringkat ke-2, kalah dengan Yudha yang menduduki peringkat pertama. Yudha juga telah berhasil diterima menjadi mahasiswa kedokteran di universitas Gadjah Mada.
Mereka tertawa bersama-sama ditengah kerumunan massa yang berhasil membuat mereka tak bisa keluar dan terpaksa melalukan percakapan ditengah-tengah teman-temannya. Lalu, Riani, Yudha Ulfi dan teman-teman yang lain foto bersama untuk kenang-kenangan semasa di SMA. Ulfi, sahabat Riani berhasil menjadi  salah satu mahasiswa di IPB.
……………………………………………………………….
5 TAHUN kemudian, Riani telah lulus dari salah satu universitas di Amerika dengan nilai yang memuaskan dan menjadi seorang dokter spesialis anak. Riani memilih jurusan itu karena memang ia sangat suka dengan anak-anak. Selama di Amerika, ia tak mempunyai satupun pacar, mungkin Yudhalah alasannya. Disana pula ia telah mendapatkan pengalaman bekerja sebagai dokter spesialis anak dirumah sakit milik swasta. Riani pulang kembali kerumah yang sangat ia rindukan. Apalagi orang tuanya yang selalu menyayanginya, Kakaknya, dan adiknya yang ia sayangi.             Ia juga telah melamar pekerjaan dan diterima di salah satu rumah sakit negeri di kotanya. Begitu pula Yudha dan Ulfi. Yudha lulus dari universitas Gadjah Mada dengan IP yang tinggi dan menyandang dokter umum. Ia bekerja dirumah sakit milik ayahnya yang juga seorang dokter. Ulfi, sahabat Riani menjadi sarjana pertanian yang sukses karena usai lulus, ia segera ke Jepang untuk menambah ilmu pertaniannya. Ia juga telah bekerja sebagai staf menteri pertanian.
Suatu hari, teman-teman sekelas Riani kala ia SMA mengadakan reuni kepuncak. Riani sangat bahagia, apa lagi ia memang sangat merindukan teman-temannya, terutama Yudha dan Ulfi. Dalam pikirannya, ia membayangkan sosok Yudha yang sekarang dan sahabatnya, Ulfi.
Hari yang dinanti Riani datang juga. Mereka berkumpul di SMA tempat mereka dahulu menuntut ilmu. Dari sana mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Wajah Riani berseri-seri ketika bola mata indahnya menangkap gambar yang sangat ia kenal. Ya. Ulfi, sahabatnya.
“Rianiiiii… duh, sekarang tambah cantik deh. Aku kangeeeeen banget!” ucap Ulfi dengan girang.
“aku juga kangen kamu ulfi, kangen banget… “ kata riani sambil memeluk sahabatnya itu.
“iya nih Riani tambah kece aja. Hehehe” timpal salah satu teman mereka.
Mereka hanya tertawa dalam pertemuan pertama mereka setelah berpisah selama 5 tahun. Sebenarnya Yudha juga melihat sosok Riani yang semakin cantik. Namun ia hanya diam dan memandangi Riani sangat lama. Rasa yang selama ini menghiasi sanubari Yudha mendadak bertambah sangat liar, sehingga ia tampaknya tak sanggup lagi jika harus memendam rasa cinta itu. Namun Ia takut Riani telah milik orang lain.
Rombongan kawan lama itu melakukan perjalanan sekitar 5 jam untuk mencapai daerah puncak. Cukup lama memang, karena selama perjalanan, daerah puncak macet. Rencananya mereka akan menghabiskan waktu 3 hari dipuncak untuk menghilangkan kerinduan mereka.
Ketika telah sampai dan turun dari bis, Riani tak sengaja menyenggol teman laki-lakinya yang ternyata Yudha. Riani nampaknya sangat mengenal Yudha walaupun telah 5 tahun tak bertemu sang pujaan hatinya itu. Sorot mata Yudha memang tak pernah ada yang sanggup menggantikan bagi Riani.
“eh Yudha, apa kabar?” sapa Riani dengan gembira
“baik kok Ni, kamu?” Yudha balik bertanya.
“seperti yang anda lihat pak dokter. Hehehe.” Ucapnya menyenggol pundak Yudha yang hampir sama tinggi dengan dia.
“ahahaha… Bu dokter Riani tambah cantik aja.” Puji Yudha
“Aduh, apaan sih pak dokter Yudha ini. Bikin malu saja.” Timpal Riani.
Mereka lalu menuju penginapan yang telah disewakan untuk keperluan mereka menginap selama dipuncak. Yudha membantu  Riani membawa barang-barangnya ke kamar Riani, setelah Riani mengucapkan terima kasih kepada Yudha, Yudha menuju kamarnya sendiri untuk memberesi barang-barangnya.
Semburat merah di batas horizon semakin memudar mendatangkan gantungan awan hitam yang menandakan malam akan segera datang. Rombongan teman lama itu berkumpul di taman belakang penginapan untuk menikmati suasana malam dipuncak dan menikmati daging asap berbumbu dan berbau khas yang telah dipanggang diatas bara api. Ketika Ulfi dan Riani berniat untuk mengambil beberapa tusuk sate itu, tiba-tiba Yudha dan kawan-kawannya datang. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Setelah Riani dan Ulfi mendapatkan sate yang mereka inginkan, kemudian Riani dan Ulfi menuju kursi panjang, berkumpul dengan kawan-kawan lamanya yang lain. Kawan-kawan Yudha silih berganti memuji sosok Riani yang tetap rendah hati, ramah dan baik walau ia adalah lulusan Universitas luar negeri.
Malam semakin larut. Satu persatu anggota gerombolan itu menuju kamar masing-masing untuk istirahat melepas penat seharian. Riani dan Ulfi berada sekamar. Ulfi telah lebih dahulu  tidur. Namun entah mengapa mata Riani sepertinya tak mau terkatup. Ia terus bermain-main dengan HPnya untuk membalas E-mail dari kawan-kawan bulenya. Setelah beberapa lama ia bermain dengan HPnya, nampaknya ia sudah tak sanggup lagi menahan hasratnya ingin buang air kecil. Ketika ia akan sampai kamar mandi, ia bertemu dengan beberapa teman laki-laki dan perempuannya yang belum terlelap. Ia juga melihat sosok Yudha yang gagah sedang ada dipojok bermain dengan HPnya. Ketika bola mata mereka terpaut, senyuman dibibir masing-masing mengembang.
“Riani.. kapan sih kamu terlihat jelek? Cantikmu tanpa celah.” Batin Yudha
Tiba-tiba saja pikiran Yudha memikirkan hal-hal nakal tentang Riani. Menurutnya, walau dalam gelap sekalipun, Riani tetap cantik dan mempesona. Apalagi ditambah senyuman yang selalu menghiasi bibir manisnya, membuat Yudha tak hentinya menatap gadis itu.
……………………………………………………………………………………
Paginya, rombongan kawan itu melanjutkan wisatanya dipuncak, mendaki, arum jeram, menunggang kuda, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang menantang adrenalin. Mereka cukup puas dengan kebersamaan mereka walau hanya sekedar 3 hari bertemu. Di hari itu pula Yudha dijodoh-jodohkan dengan Riani. Dua makhluk yang sebenarnya saling mencintai itu hanya bisa tertunduk malu lantaran jika mereka menyangkal, maka teman-teman mereka akan semakin menjadi menjodohkan dua sejoli itu, mereka tak bisa berkata apa-apa kecuali diam dan menunduk. Dari hati mereka yang terdalam, sebenarnya mereka senang dengan penjodohan itu karena mereka berdua sebenarnya saling mencintai. Namun masalahnya mereka ragu untuk sekedar saling member signal, apalagi mengungkapkan.
                Hari terakhir dipuncak, Riani dan kawan-kawannya berkemas untuk segera pulang. Sebelum mereka pulang, pagi-pagi sekali Riani sempat duduk sendiri di kursi samping penginapan untuk menikmati segarnya udara pagi yang lumayan dingin ditemani secangkir teh yang mulai dingin. Kemudian, datanglah Yudha yang sebenarnya dari kamar mandi. Tanpa sadar, ia menghampiri Riani.
“RI, kok disini? Ga kedinginan?” katanya
“dingin sih, tapi lupa bawa jaket kok. Mau kekamar males.” Jawabnya dengan senyuman.
Yudha tak berkata apa-apa. Ia lalu melepaskan jaketnya dan memakaikan jaket itu kebadan Riani yang hampir sama tinggi dengannya. Kini ia berdiri tepat disamping gadis pujaan hatinya itu. Jantung Yudha tiada hentinya berdegup. Tubuhnya yang dingin terasa semakin dingin karena rasa gugup berada disamping Riani, bahkan ia sampai menggigiti bibirnya sendiri.
“eh Yud, kok dikasih ke Aku sih. Kamu ga kedinginan?” lanjutnya.
“aku ga bakalan tega membarkan seorang perempuan kedinginan. Apa lagi perempuan itu adalah seorang yang aku kagumi dari aku SMA dulu. Biarlah aku yang kedinginan, asal kamu enggak Ri.”  Bibir Yudha mulai bergetar.
“ah Yudha, bisa aja. Mirip raja gombal.” Riani terkekeh
“pasti selama di Amerika kamu gonta-ganti pacar. Secara, orang-orang sana kan ganteng-ganteng.” Dia mencoba berargumen
“cie, dokter Yudha sok tahu deh. Kamu tuh, jahat banget udah nyuri hatiku.” Riani terkekeh sambil mencubit lengan Yudha.
“Aku juga gitu, aku tak mengizinkan seorang mencuri hatiku, cukup kamu aja Ri yang berhasil mencuri hatiku. Bukankah kita udah melakukan kejahatan yang sempurna Ni?” Bola mata Yudha berpaut dengan milik Riani
“hahaha… kamu tuh ya. kok bisa? Yudha makin aneh deh.” Kepala Riani tertunduk. Wajahnya memerah.
Suasana  yang mulanya penuh dengan bincangan canda namun menggambarkan perasaan keduanya mendadak sunyi. Riani menunduk mengatur napasnya yang tak beraturan. Jantungnya pun tak teratur. Yudha memandang lurus kedepan menata perasaannya yang kacau balau. Beberapa kali ia terlihat membuka mulutnya untuk melanjutkan obrolan mereka, namun selalu gagal karena mulutnya tak kunjung mengeluarkan kata-kata yang telah ia rangkai. Ia terlalu gugup. Akhirnya, dengan perasaan yang tak menentu, ia memberanikan diri mengucapkan kalimat yang lumayan panjang.
“aku bukan aneh Ri, selama kamu di luar negeri, aku selalu tersiksa karna aku sangat merindukan kamu. Aku sering tak konsentrasi  jika teringat tentangmu. Aku terkadang menangis karna aku tak berani menghubungimu untuk sekedar menghilangkan rasa rinduku. Kamulah salah satunya alasan mengapa aku tak kunjung mempunyai pacar.”  Mulut Yudha bergetar. Riani diam menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Yudha. Tak lama kemudian, setelah Riani menarik napas panjang, ia membalas ucapan Yudha.
“kamu juga satu-satunya alsan mengapa aku juga tak pernah mau menerima setiap ungkapan perasaan setiap laki-laki Yud.” Ucap Riani menunduk.
“Riani, aku mencintaimu.” Kata Yudha dengan nada lirih namun terdengar oleh Riani. Ia berlutut kepada Riani. Tangannya memegang tangan Riani yang dingin.
“aku juga mencintai kamu Yud” Riani memandangi Yudha lekat-lekat.
Dua sejoli itu saling terpaku dalam kekaguman yang selama ini mereka rasakan. Senyuman tak pernah terlepas dari bibir mereka karena berhasil mengungkapkan rasa yang selama ini menyiksa diri. Kini semuanya terasa lega setelah Yudha mendapatkah hati Riani dan juga sebaliknya walaupun sempat ada keraguan dari hati mereka. Yudha memeluk Riani dengan penuh kehangatan, tampaknya rindu yang selama ini membuat batin mereka terluka terobati sudah dengan pelukan yang hangat itu. Disisi lain, kedatangan teman-teman mereka dengan tepuk tangan riuh membuat pipi dua sejoli itu makin merona seolah mereka memakai blush on. Terdengar lagu menemukanmu milik seventeen yang sengaja di setel oleh ulfi, ternyata teman-teman mereka sedari tadi mendengarkan dan menyaksikan acara penembakan yang lumayan romantis secara live, layaknya siaran acara TV yang disiarkan secara live pula.





The SUNRISE.