-MASIH MENUNGGUMU-
Adzan
Subuh membangunkan seorang gadis cantik dari tidur lelapnya. Ia
segara bangun untuk menunaikan kewajibannya terhadap Tuhan semesta alam.
Kemudain ia melanjutkan aktivitas paginya yang tidak begitu sulit. Ia cukup
menyapu lantai dan halaman rumahnya. Setelah semua selesai, ia lalu mandi,
sarapan dan bersiap menuju sekolah. Disekolah ia termasuk gadis yang
berprestasi. Ia sering diikutsertakan dalam olimpiade atau lomba mapel
matematika atau kimia, dan hebatnya ia selalu mendapat juara. Ia juga termasuk
anak yang sangat baik, ulet, rendah hati dan suka menolong, tak heran jika ia
punya banyak teman.
Pagi itu, cuaca sangat cerah.
Murid-muridpun telah berbaris sangat rapi dilapangan untuk mengikuti upacara
bendera. Upacara berlangsung begitu khidmad dan tertib. Maklumlah, sekolah
tempat ia menuntut ilmu mengharuskan siswanya berIQ diatas rata-rata dan disiplin dalam berbagai
hal. Jika ada siswa yang melanggar aturan sedikit saja, habislah ia. Setelah
upacara bendera selesai, petugas upacara mengumumkan nama siswa yang
mendapatkan juara dalam lomba Kimia tingkat provinsi yang diadakan minggu lalu.
Tepuk tangan terdengar sangat riuh ketika nama Riani Sarassati diucapkan
petugas. Ia berhasil mendapat juara 1 untuk yang kesekian kalinya. Riani sangat
terkenal seantero sekolahan, bahkan namanya sudah santer terdengar di
sekolah-sekolah lain.
Tak hanya para guru, teman-teman
Riani banyak yang memberinya selamat atas prestasi yang ia torehkan pada
sekolahnya dalam setiap lomba. Ia selalu dimintai bantuan teman-temannya ketika
mereka tersendat dalam mengurusi mata pelajaran yang tak mereka mengerti. Dan
dengan senang hati Riani mau mengajarinya. Kadang, sebagai imbalannya,
teman-teman Riani membelikannya makanan walau sebenarnya Riani tak mengharapkan
imbalan apa-apa.Terkadang ia sering mengajari Ulfi, sahabat sekaligus teman
sebangkunya. Mereka menyelesaikan soal
kimia yang bagi Riani adalah soal-soal yang biasa saja, bahkan menjadi
makanannya sehai-hari. Ulfa dan Riani merupakan sahabat yang tak terpisahkan,
bisa dibilang dimana ada Riani, disana ada Ulfi. Pokoknya bagaikan perangko dan
amplop.
……………………………………………………………………………..
Sinar matahari
pagi datang kembali untuk memberi kehangatan penduduk bumi. Burung-burung tak
henti-hentinya bernyanyi menemani pagi Riani yang indah. Sesampainya ia di
sekolah, teman-temannya baik perempuan atau laki-laki silih berganti menyapa
gadis cantik daan baik itu. Sebenarnya banyak siswa laki-laki disekolahnya
banyak yang mengagumi bahkan jatuh cinta terhadapnya, namun Riani tak
menanggapi laki-laki yang satu per satu mengungkapkan perasaan padanya. Ia
bukan sok jual mahal atau apa, namun ia berpikir bahwa ia belum pantas untuk
hal-hal semacam itu. Ia hanya ingin focus mengejar beasiswa kuliah ke luar
negeri yang sedari SMP ia ingin
dapatkan.
Tanpa sepengetahuan
teman-temannya, Riani mengagumi sosok Yudha. Saingannya dalam mendapatkan
prestasi disekolahnya. Yudha adalah sosok yang baik, cerdas, dan bijaksana.
Riani sering berkejaran nilai dengan Yudha yang juga pandai dalam berbagai hal.
Tak jarang mereka berdiskusi untuk memecahkan berbagai soal yang tidak mereka
pahami. Mereka juga sering dipasangkan dalam setiap lomba yang mengharuskan
berkelompok. Mungkin rasa Riani timbul karena mereka sering bertemu dan
berhubugan. Namun Riani sangat ragu dan menyimpan rasanya rapat-rapat. Ia takut
kalau Yudha tak mempunyai rasa yang sama terhadapnya.
Saat istirahat, Riani lebih sering terlihat duduk dibangku untuk
membaca buku atau sekedar bercanda dengan Ulfi. Terkadang ia juga ke
perpuatakaan untuk mengisi otaknya yang tak ada batasnya untuk menerima
informasi baru. Saat itu, Ulfi sedang bergurau dengn Riani tentang Yudha yang
sedang memperhatikannya. Sebenarnya Ulfi tidaklah salah, karena memang Yudha sering
sekali memperhatikan setiap tingkah yang Riani ciptakan. Ketika Riani sedang
melamun, sedang serius mengerjakan soal, maka kedua bola mata Yudha dengan
setia menatap wajah gadis itu. Apa lagi
ketika Riani sedang berdebat dengan kawan-kawannya yang mempunyai pendirian
sangat kuat atau saat ia menjelaskan setiap argumennya didepan kelas dengan
senyuman manis, Yudha tak akan ketinggalan sedikitpun.
Sebenarnya sudah sejak lama Yudha
mengagumi Riani. Seperi halnya Riani, Yudha juga memilih untuk memendam rasa
yang semakin hari semakin bergejolak membuatnya tak karuan jika ada didekat
Riani. Ia terlalu minder jika harus mengungkapkan kepada Riani yang menurutnya
terlalu sempurna. Ditambah lagi, laki-laki yang nembak Riani kebanykan ganteng
dan keren, hal itu yang membuatnya hanya diam. Ia hanya puas melihat Riani dari
kejauhan dan sukses menjadi penggemar rahasia Riani.
…………………………………………………………………….
Kini mereka
telah duduk di kelas XII, mereka tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain
kecuali ujian. Mereka sedang sibuk-sibuknya belajar dan mengikuti bimbingan
pelajaran yang diadakan oleh sekolah mereka atau lembaga dari luar demi satu
tujuan, yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan. Rasa kagum mereka yang abadi
untuk sementara mereka lupakan demi menghadapi UN yang telah didepan mata.
Waktu mereka hanya terfokuskan untuk belajar dan belajar. Hingga waktu ujian
tiba, mereka berhasil melewati ujian tersebut dengan baik. Disela-sela waktu
menunggu pengumuman hasil Ujian, Riani mendaftar sebuah universitas di luar
negeri dan Yudha mendaftar di Universitas Gadjah Mada. Suatu hari, Riani
dipanggil keruang guru untuk menemui Mr.Guruh, wali kelasnya yang selama ini
membimbingnya.
“Riani, selamat.
Kamu berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat itu.” Kata Mr. Guruh
dengan bangga
“benarkah pak?
Bapak bercanda, kan?” jawabnya tak percaya.
“Tidak Ri, kamu
berhasil mendapatkan apa yang kamu mau. Sekali lagi, selamat nak. Ini surat
keterangan yang diberikan kabupaten untuk kamu.”
“terima kasih
pak, bapak tak hentinya mengajari saya. Semua ini berkat bantuan bapak.” Ucap
Riani dengan berlinang air mata.
“iya Riani.
Nanti kamu pulang, dan berilah orang tuamu kejutan. Mereka pasti sangat bangga
dengan kamu.” Ucapnya
“iya pak, terima
kasih” katanya seraya meninggalkan ruangan itu.
Dalam perjalanan menuju kelasnya,
tak henti-hentinya ia mengucap syukur kepada Allah atas anugrah yang ia terima
dari-Nya. Air matanya juga tak henti-hentinya menetes dari matanya yang sipit
dan indah itu. Sesampainya dikelas,
banyak teman-teman yang memeluknya dan memberinya selamat atas keberhasilannya,
tak terkecuali Yudha, sang pujaan hati. Ada rasa deg-degan ketika Yudha
menjabat tangannya.
“selamat Ni,
kamu hebat.” Ungkap Yudha
“ah, biasa saja.
Makasih banyak Yud.” Balasnya sambil menyeka air matanya.
Tiba-tiba Ulfi
datang dan memeluk Riani sambil menangis.
“kenapa Fi?
Tanya Riani heran
“Ri, kalau kamu
keluar negeri, kita bakalan jauh dong. Kalo aku kangen sama kamu gimana? Duh
Ri, kok kamu tega sih ninggalin aku? Riani…” ucapnya sambil mempererat
pelukannya terhadap Riani.
“ Ulfi, ga ada
yang ninggalin kamu. Aku cumin sebentar kok, ntar kalo kamu kan bisa skyp-an
sama aku. Ayolah, tekhnologi sekarang makin canggih bukan? Hiburnya
“Ri, aku akan
merindukan kamu sayang. Aku menunggumu walau kau tak pernah tau” batin Yudha.
Adegan menangis karena haru dikelas
Riani usai sudah. Kini, Riani telah berada dirumah dan sedang menikmati makan
siang bersama keluarganya di ruang makan. Riani memberi tahu orang tuanya bahwa
ia berhasil mendapatkan beasiswa itu. Orang tua Riani sangat bangga dan
mengizinkan Riani ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya.
Pengumuman
kelulusan telah diterima Riani dan siswa yang lain di sekolah tempat Riani
menuntut ilmu. Ia berhasil menduduki peringkat ke-2, kalah dengan Yudha yang
menduduki peringkat pertama. Yudha juga telah berhasil diterima menjadi
mahasiswa kedokteran di universitas Gadjah Mada.
Mereka tertawa bersama-sama
ditengah kerumunan massa yang berhasil membuat mereka tak bisa keluar dan
terpaksa melalukan percakapan ditengah-tengah teman-temannya. Lalu, Riani,
Yudha Ulfi dan teman-teman yang lain foto bersama untuk kenang-kenangan semasa
di SMA. Ulfi, sahabat Riani berhasil menjadi
salah satu mahasiswa di IPB.
……………………………………………………………….
5 TAHUN kemudian, Riani telah lulus
dari salah satu universitas di Amerika dengan nilai yang memuaskan dan menjadi seorang
dokter spesialis anak. Riani memilih jurusan itu karena memang ia sangat suka
dengan anak-anak. Selama di Amerika, ia tak mempunyai satupun pacar, mungkin
Yudhalah alasannya. Disana pula ia telah mendapatkan pengalaman bekerja sebagai
dokter spesialis anak dirumah sakit milik swasta. Riani pulang kembali kerumah
yang sangat ia rindukan. Apalagi orang tuanya yang selalu menyayanginya,
Kakaknya, dan adiknya yang ia sayangi. Ia
juga telah melamar pekerjaan dan diterima di salah satu rumah sakit negeri di
kotanya. Begitu pula Yudha dan Ulfi. Yudha lulus dari universitas Gadjah Mada
dengan IP yang tinggi dan menyandang dokter umum. Ia bekerja dirumah sakit milik
ayahnya yang juga seorang dokter. Ulfi, sahabat Riani menjadi sarjana pertanian
yang sukses karena usai lulus, ia segera ke Jepang untuk menambah ilmu
pertaniannya. Ia juga telah bekerja sebagai staf menteri pertanian.
Suatu hari, teman-teman sekelas Riani
kala ia SMA mengadakan reuni kepuncak. Riani sangat bahagia, apa lagi ia memang
sangat merindukan teman-temannya, terutama Yudha dan Ulfi. Dalam pikirannya, ia
membayangkan sosok Yudha yang sekarang dan sahabatnya, Ulfi.
Hari yang dinanti Riani datang
juga. Mereka berkumpul di SMA tempat mereka dahulu menuntut ilmu. Dari sana
mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Wajah Riani
berseri-seri ketika bola mata indahnya menangkap gambar yang sangat ia kenal.
Ya. Ulfi, sahabatnya.
“Rianiiiii… duh,
sekarang tambah cantik deh. Aku kangeeeeen banget!” ucap Ulfi dengan girang.
“aku juga kangen
kamu ulfi, kangen banget… “ kata riani sambil memeluk sahabatnya itu.
“iya nih Riani
tambah kece aja. Hehehe” timpal salah satu teman mereka.
Mereka hanya tertawa dalam
pertemuan pertama mereka setelah berpisah selama 5 tahun. Sebenarnya Yudha juga
melihat sosok Riani yang semakin cantik. Namun ia hanya diam dan memandangi
Riani sangat lama. Rasa yang selama ini menghiasi sanubari Yudha mendadak
bertambah sangat liar, sehingga ia tampaknya tak sanggup lagi jika harus
memendam rasa cinta itu. Namun Ia takut Riani telah milik orang lain.
Rombongan kawan lama itu
melakukan perjalanan sekitar 5 jam untuk mencapai daerah puncak. Cukup lama
memang, karena selama perjalanan, daerah puncak macet. Rencananya mereka akan
menghabiskan waktu 3 hari dipuncak untuk menghilangkan kerinduan mereka.
Ketika telah sampai dan turun
dari bis, Riani tak sengaja menyenggol teman laki-lakinya yang ternyata Yudha.
Riani nampaknya sangat mengenal Yudha walaupun telah 5 tahun tak bertemu sang
pujaan hatinya itu. Sorot mata Yudha memang tak pernah ada yang sanggup
menggantikan bagi Riani.
“eh Yudha, apa
kabar?” sapa Riani dengan gembira
“baik kok Ni,
kamu?” Yudha balik bertanya.
“seperti yang
anda lihat pak dokter. Hehehe.” Ucapnya menyenggol pundak Yudha yang hampir
sama tinggi dengan dia.
“ahahaha… Bu
dokter Riani tambah cantik aja.” Puji Yudha
“Aduh, apaan sih
pak dokter Yudha ini. Bikin malu saja.” Timpal Riani.
Mereka lalu menuju penginapan
yang telah disewakan untuk keperluan mereka menginap selama dipuncak. Yudha
membantu Riani membawa barang-barangnya
ke kamar Riani, setelah Riani mengucapkan terima kasih kepada Yudha, Yudha
menuju kamarnya sendiri untuk memberesi barang-barangnya.
Semburat merah di batas horizon
semakin memudar mendatangkan gantungan awan hitam yang menandakan malam akan
segera datang. Rombongan teman lama itu berkumpul di taman belakang penginapan
untuk menikmati suasana malam dipuncak dan menikmati daging asap berbumbu dan
berbau khas yang telah dipanggang diatas bara api. Ketika Ulfi dan Riani
berniat untuk mengambil beberapa tusuk sate itu, tiba-tiba Yudha dan
kawan-kawannya datang. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Setelah Riani
dan Ulfi mendapatkan sate yang mereka inginkan, kemudian Riani dan Ulfi menuju
kursi panjang, berkumpul dengan kawan-kawan lamanya yang lain. Kawan-kawan
Yudha silih berganti memuji sosok Riani yang tetap rendah hati, ramah dan baik
walau ia adalah lulusan Universitas luar negeri.
Malam semakin larut. Satu persatu
anggota gerombolan itu menuju kamar masing-masing untuk istirahat melepas penat
seharian. Riani dan Ulfi berada sekamar. Ulfi telah lebih dahulu tidur. Namun entah mengapa mata Riani
sepertinya tak mau terkatup. Ia terus bermain-main dengan HPnya untuk membalas
E-mail dari kawan-kawan bulenya. Setelah beberapa lama ia bermain dengan HPnya,
nampaknya ia sudah tak sanggup lagi menahan hasratnya ingin buang air kecil.
Ketika ia akan sampai kamar mandi, ia bertemu dengan beberapa teman laki-laki
dan perempuannya yang belum terlelap. Ia juga melihat sosok Yudha yang gagah
sedang ada dipojok bermain dengan HPnya. Ketika bola mata mereka terpaut,
senyuman dibibir masing-masing mengembang.
“Riani.. kapan
sih kamu terlihat jelek? Cantikmu tanpa celah.” Batin Yudha
Tiba-tiba saja pikiran Yudha memikirkan hal-hal nakal
tentang Riani. Menurutnya, walau dalam gelap sekalipun, Riani tetap cantik dan
mempesona. Apalagi ditambah senyuman yang selalu menghiasi bibir manisnya,
membuat Yudha tak hentinya menatap gadis itu.
……………………………………………………………………………………
Paginya, rombongan kawan itu
melanjutkan wisatanya dipuncak, mendaki, arum jeram, menunggang kuda, dan
aktivitas-aktivitas lainnya yang menantang adrenalin. Mereka cukup puas dengan
kebersamaan mereka walau hanya sekedar 3 hari bertemu. Di hari itu pula Yudha
dijodoh-jodohkan dengan Riani. Dua makhluk yang sebenarnya saling mencintai itu
hanya bisa tertunduk malu lantaran jika mereka menyangkal, maka teman-teman
mereka akan semakin menjadi menjodohkan dua sejoli itu, mereka tak bisa berkata
apa-apa kecuali diam dan menunduk. Dari hati mereka yang terdalam, sebenarnya
mereka senang dengan penjodohan itu karena mereka berdua sebenarnya saling
mencintai. Namun masalahnya mereka ragu untuk sekedar saling member signal,
apalagi mengungkapkan.
Hari
terakhir dipuncak, Riani dan kawan-kawannya berkemas untuk segera pulang.
Sebelum mereka pulang, pagi-pagi sekali Riani sempat duduk sendiri di kursi
samping penginapan untuk menikmati segarnya udara pagi yang lumayan dingin
ditemani secangkir teh yang mulai dingin. Kemudian, datanglah Yudha yang
sebenarnya dari kamar mandi. Tanpa sadar, ia menghampiri Riani.
“RI, kok disini?
Ga kedinginan?” katanya
“dingin sih,
tapi lupa bawa jaket kok. Mau kekamar males.” Jawabnya dengan senyuman.
Yudha tak berkata apa-apa. Ia
lalu melepaskan jaketnya dan memakaikan jaket itu kebadan Riani yang hampir
sama tinggi dengannya. Kini ia berdiri tepat disamping gadis pujaan hatinya
itu. Jantung Yudha tiada hentinya berdegup. Tubuhnya yang dingin terasa semakin
dingin karena rasa gugup berada disamping Riani, bahkan ia sampai menggigiti
bibirnya sendiri.
“eh Yud, kok
dikasih ke Aku sih. Kamu ga kedinginan?” lanjutnya.
“aku ga bakalan
tega membarkan seorang perempuan kedinginan. Apa lagi perempuan itu adalah
seorang yang aku kagumi dari aku SMA dulu. Biarlah aku yang kedinginan, asal
kamu enggak Ri.” Bibir Yudha mulai
bergetar.
“ah Yudha, bisa
aja. Mirip raja gombal.” Riani terkekeh
“pasti selama di
Amerika kamu gonta-ganti pacar. Secara, orang-orang sana kan ganteng-ganteng.”
Dia mencoba berargumen
“cie, dokter Yudha
sok tahu deh. Kamu tuh, jahat banget udah nyuri hatiku.” Riani terkekeh sambil
mencubit lengan Yudha.
“Aku juga gitu,
aku tak mengizinkan seorang mencuri hatiku, cukup kamu aja Ri yang berhasil
mencuri hatiku. Bukankah kita udah melakukan kejahatan yang sempurna Ni?” Bola
mata Yudha berpaut dengan milik Riani
“hahaha… kamu
tuh ya. kok bisa? Yudha makin aneh deh.” Kepala Riani tertunduk. Wajahnya
memerah.
Suasana yang mulanya penuh dengan bincangan canda
namun menggambarkan perasaan keduanya mendadak sunyi. Riani menunduk mengatur
napasnya yang tak beraturan. Jantungnya pun tak teratur. Yudha memandang lurus
kedepan menata perasaannya yang kacau balau. Beberapa kali ia terlihat membuka
mulutnya untuk melanjutkan obrolan mereka, namun selalu gagal karena mulutnya
tak kunjung mengeluarkan kata-kata yang telah ia rangkai. Ia terlalu gugup.
Akhirnya, dengan perasaan yang tak menentu, ia memberanikan diri mengucapkan
kalimat yang lumayan panjang.
“aku bukan aneh
Ri, selama kamu di luar negeri, aku selalu tersiksa karna aku sangat merindukan
kamu. Aku sering tak konsentrasi jika
teringat tentangmu. Aku terkadang menangis karna aku tak berani menghubungimu
untuk sekedar menghilangkan rasa rinduku. Kamulah salah satunya alasan mengapa
aku tak kunjung mempunyai pacar.” Mulut
Yudha bergetar. Riani diam menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Yudha.
Tak lama kemudian, setelah Riani menarik napas panjang, ia membalas ucapan
Yudha.
“kamu juga
satu-satunya alsan mengapa aku juga tak pernah mau menerima setiap ungkapan
perasaan setiap laki-laki Yud.” Ucap Riani menunduk.
“Riani, aku
mencintaimu.” Kata Yudha dengan nada lirih namun terdengar oleh Riani. Ia
berlutut kepada Riani. Tangannya memegang tangan Riani yang dingin.
“aku juga
mencintai kamu Yud” Riani memandangi Yudha lekat-lekat.
Dua sejoli itu saling terpaku
dalam kekaguman yang selama ini mereka rasakan. Senyuman tak pernah terlepas
dari bibir mereka karena berhasil mengungkapkan rasa yang selama ini menyiksa
diri. Kini semuanya terasa lega setelah Yudha mendapatkah hati Riani dan juga
sebaliknya walaupun sempat ada keraguan dari hati mereka. Yudha memeluk Riani
dengan penuh kehangatan, tampaknya rindu yang selama ini membuat batin mereka
terluka terobati sudah dengan pelukan yang hangat itu. Disisi lain, kedatangan
teman-teman mereka dengan tepuk tangan riuh membuat pipi dua sejoli itu makin
merona seolah mereka memakai blush on. Terdengar lagu menemukanmu milik
seventeen yang sengaja di setel oleh ulfi, ternyata teman-teman mereka sedari
tadi mendengarkan dan menyaksikan acara penembakan yang lumayan romantis secara
live, layaknya siaran acara TV yang disiarkan secara live pula.
The SUNRISE.